Hadis tentang amalan yang paling utama

amalan yang paling utama

Banyak hadis tentang amalan yang paling utama. Hal ini tidak lain karena pertanyaan-pertanyaan para sahabat kepada Rasulullah ﷺ tentang perbuatan atau amalan apa yang paling utama. Tujuan para sahabat tidak lain agar sahabat tahu dan kemudian mengamalkan amalan terbaik itu.

Berikut adalah salah satu hadis tentang amalan yang paling utama, yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah Ra.

و حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ أَبِي مُزَاحِمٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ ح حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ زِيَادٍ أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ قَالَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ

Artinya :
Diriwayatkan dari Abu Hurairah (w. 57 H) dia berkata, “Rasulullah ﷺ pernah ditanya, “Amal apa yang paling utama? ‘ Beliau menjawab, “Iman kepada Allah”. Dia bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”. Dia bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Haji yang mabrur”.
HR. Muslim (204 H – 261 H : 57 tahun).

Menurut hadis tentang amalan yang paling utama di atas, amalan terbaik sebagaimana sabda Rasulullah adalah:

Pertama, beriman kepada Allah dan rasul-Nya.

Iman merupakan spirit yang menyatu dengan amal saleh, keduanya tidak bisa terpisahkan. Karena semua amal perbuatan yang tidak didasari oleh keimanan tidak akan diterima oleh Allah Swt.

Begitu pula sebaliknya, keimanan tanpa buktikan praktik amal saleh hanyalah pengakuan palsu tentang keimanan itu sendiri.

Kedua, jihad atau berjuang di jalan Allah Swt.

Jihad di sini bermakna luas tidak mesti berupa perang. Secara sederhana jihad bisa bermakna bersungguh- sungguh dalam memperjuangkan atau menegakkan agama Allah, apa pun bentuk perjuangannya.

Ibnul Qayyim membagi jihad menjadi empat tingkatan, yakni,

  1. Jihadunnafs (jihad melawan kebodohan diri dengan ilmu dan pemahaman yang benar),
  2. Jihadussyaithan (melawan syubhat),
  3. Jihadulkuffar wa al-Munafiqin (melawan orang- orang kafir dan makar orang-orang munafik), dan
  4. Jihadu arbabizh-zhulmi wal-bida’ wal-munkarat (melawan dedengkot kezaliman, ahli bid’ah, dan tokoh-tokoh kemungkaran).

Ketiga, haji mabrur.

Mabrur tidaknya haji seseorang bisa kita ketahui dari tanda-tandanya, contohnya adalah harta yang ia gunakan untuk haji merupakan harta yang halal.

Karena Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik, selama pelaksanaan ibadah haji selalu melakukan kebaikan dan menjauhi kemaksiatan.

Tanda lain yang sangat menonjol dari haji yang mabrur adalah setelah haji kebaikannya bertambah. Ibadahnya bertambah, baik secara kuantitas maupun kualitas, dan muamalahnya juga bertambah baik kepada orang- orang yang ada di sekitarnya.

Wallahu A’lam

Oleh: Chaidar muqaddam

Jangan lupa ikuti media kami :
📷:http://bit.ly/Rasionalika_Darussunnah

Yuk, wakaf untuk Darus-Sunnah, Pesantren Hadis Pertama di Indonesia:

💳:http://bit.ly/Wakaf_Darussunnah
💳:https://kitabisa.com/campaign/wakafdarussunnah
[Lembaga Kajian dan Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

Pendaftaran Santri Baru Darussunnah
Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *