Profil Ma’had Dauli

Ma’had Dauli atau yang biasa dikenal dengan Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences adalah lembaga setara perguruan tinggi yang khusus mempelajari hadis, ilmu hadis dan keilmuan-keilmuan terkait.

Pengantar

Studi Hadis di Indonesia terlihat masih jarang, kalau tidak dikatakan sangat langka. Hal ini menimbulkan banyak sekali persoalan tentang penggunaan Hadis-hadis palsu atau mengklaim hal-hal yang bukan Hadis sebagai Hadis.

Di Indonesia juga tampaknya sulit menemukan orang yang dapat disebut sebagai seorang muhaddis dalam arti terminologis. Keadaan seperti itu tentu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

Karena, bagaimanapun juga, Hadis adalah sumber otoritas kedua dalam agama Islam sesudah al-Qur’an. Sehingga, setiap Muslim sudah semestinya mengetahui dan memahami Hadis secara benar dan tepat sebagaimana kemestian dalam mengetahui al-Qur’an.

Karenanya, untuk mengisi kekosongan di atas sekaligus untuk menunjang keperluan umat, pada tahun 1418 H/1997 M, didirikan Pesantren khusus bernama Darus-Sunnah. Lokasinya, lebih kurang 300 m di sebelah selatan Kampus II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Sejarah dan Perkembangan Darus-Sunnah

Darus-Sunnah ini bermula dari pengajian yang hanya diikuti oleh tiga orang mahasiswa di ruang tamu rumah KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Ketiga orang itu ialah Ali Nurdin (sekarang Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan Institut PTIQ Jakarta), Saifuddin (kini menjadi Penghulu di Brebes Jawa Tengah) dan Khairul Mannan (kini mengajar di Brunei Darussalam). Kegiatan ini berlangsung sejak tahun 1996.

Melihat semangat belajar mereka yang tinggi itu, KH. Ali Mustafa Yaqub pun merasa terharu dan kemudian berinisiatif untuk mendirikan pesantren yang selain berfungsi sebagai tempat belajar-mengajar, peserta pengajian juga biasa tinggal di pesantren tersebut (nyantri).

Alasannya, jika turun hujan atau ada hal-hal lain yang menghalangi aktifitas pengajian, para santri tetap dapat menghadiri pengajian, selain itu beliau juga tidak ingin menyia-nyiakan hasrat mahasiswa yang terus-menerus datang mengaji. Gayung bersambut, secara kebetulan di belakang rumah beliau terdapat sepetak tanah.

Sebagai langkah awal, lokasi tersebut biasa dijadikan bangunan asrama santri. Sempit memang, sehingga bangunan ini terkesan seperti kost-an. Meski demikian, orang-orang yang berminat menjadi santri beliau kian membludak. Suatu ketika, di tengah usaha beliau membangun asrama itu, seorang kiai dari Kaliwungu Jawa Tengah, K.H. Dimyati Rais, berkunjung ke rumah beliau.

Kiai Dimyati mengatakan kepada beliau bahwa tanah yang ada di sebelah rumah beliau ini, kelak akan menjadi pesantren sekaligus asrama putra. Sementara asrama yang sedang dibangun di belakang rumah adalah khusus untuk santri putri. Tentu saja ucapan Kiai Dimyati yang merupakan doa tersebut, diamini oleh beliau meskipun sebenarnya tanah yang ada di sebelah rumah beliau bukan miliknya.

Sikap optimis K.H. Ali Mustafa Yaqub ini membuat menteri agama waktu itu, bapak Tarmizi Taher, tertarik membantu mewujudkan keinginan beliau. Melihat kepandaian ketiga mahasiswa tersebut, khususnya dalam bidang hadis, sekelompok mahasiswa mulai berdatangan mengikuti pengajian tersebut, dan menyatakan minatanya untuk mengaji bersama.

Keinginan mereka itupun akhirnya mendapat sambutan hangat, dan pada saat itu juga mereka secara resmi mengikuti pengajian. Semakin lama, peserta pengajian semakin bertambah banyak.

Di satu sisi hal ini menunjukan sebuah kemajuan, namun di sisi lain sebaliknya. Sebab, ruang tamu yang selama ini dijadikan sebagai “kelas” tak mampu lagi menampung mereka. Dan jika tidak segera ditangani, proses pengajian tersebut akan tersendat. Namun ini masih bisa diatasi, karena masih ada ruang keluarga yang kapasitasnya lebih besar dibanding ruang tamu.

Keputusan mengalihkan lokasi ke masjid ini dirasa cukup tepat sebab tak lama kemudian peserta pengajian bertambah lagi menjadi 40 orang. Dan lebih mengesankan lagi, jumlah tersebut bukanlah sekedar kuantitas belaka. Komitmen dan semangat belajar para peserta pengajian pun cukup besar. Hal ini dbuktikan dengan ketika Jakarta dilanda hujan lebat yang nyaris me-nyebabkan banjir tahun 1997 lalu, semua peserta pengajian tetap hadir meski rumah mereka jauh dengan tempat pengajian itu.

Adapun sistem perkuliahan di perguruan tinggi yang dia pakai adalah sistem diskusi, yaitu santri medapat tugas dari guru untuk mendiskusikan berbagai permasalahan bersama temannya. 

Ihwal Mahasantri Darus-Sunnah

Mengingat belajar ilmu Hadis membutuhkan kesanggupan memahami bahasa Arab dan juga kepandaian di bidang ilmu-ilmu agama lainnya, tentu hal ini sangat berat dilakukan oleh mereka yang masih duduk di bangku SD/MI atau SMP/MTs dan bahkan SMA/MA sekalipun.

Atas dasar inilah, Darus-Sunnah memprioritaskan status mahasiswa sebagai santri yang berhak tinggal di sana. Bahkan bisa dikatakan sebagai syarat mutlak.

Setelah resmi menyandang status mahasiswa, barulah mereka yang ingin menjadi mahasantri Darus-Sunnah harus mengikuti tes masuk. Dalam hal ini calon mahasantri harus melewati dua tahapan; pertama, tahap tes tulis yang meliputi tes profesiensi Bahasa Arab (TOAFL), pengetahuan dasar Ilmu Hadis, Ilmu Akidah, dan wawasan sejarah, serta pengetahuan Islam. Setelah lulus tes tulis, mereka harus melewati tahap berikutnya yaitu tes lisan yang meliputi Qira’at al-Kutub (pembacaan kitab-kitab berbahasa Arab), Fahmu al-Maqru’ (memahami isi teks Arab sekaligus mampu menerangkannya), Nahwu dan Sharaf, wawasan Ilmu Hadis, penguasaan bahasa Arab-Inggris dan psikotes.

Dari sinilah, akhirnya tanah yang ada di samping rumah dapat dibeli. Kemudian mulailah dibangun gedung berlantai dua. Setelah pesantren ini benar-benar berdiri, salah seorang santri tertua beliau, bapak Ali Nurdin mengusulkan nama Darus-Sunnah sebagai nama pesantren. Dan mahasantri muntadzim inilah yang lulus dalam kedua tes tersebut. Sedangkan mahasantri muntasib adalah mahasantri yang tinggal di luar asrama. Baik mahasantri muntadzim maupun mahasantri muntasib, keduannya memperoleh pelajaran yang sama.

Mengingat seluruh mahasantri Darus-Sunnah adalah mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Jakarta, maka dalam hal ini pesantren memberikan kelonggaran kepada mahasantrinya untuk aktif di berbagai organisasi kampus, baik yang intrakurikuler maupun yang ekstrakurikuler, dengan syarat tidak melanggar aturan-aturan Darus-Sunnah, dan tidak menganggu dirasah. 

Ihwal Kegiatan Akademis

Dalam proses kegiatan belajar-mengajar, Darus-Sunnah menerapkan sistem yang merupakan kombinasi antara sistem pesantren dan sistem perkuliahan di perguruan tinggi, yaitu antara dzikir dan fikir.

Metode pesantren tersebut adalah bandongan (muhadharah) yaitu guru menerangkan dan santri mendengarkan serta memahami. Selain sistem tersebut juga diterapkan sistem sorogan yaitu santri membaca kitab sementara pak kiai menyimaknya kemudian mengoreksi dan menanyainya. Hal ini dilakukan karena disamping tuntutan akademis pesantren juga karena keterbatasan tempat yang tidak mungkin menampung seluruh pendaftar yang jumlahnya mencapai ratusan.

Meski demikian, bukan berarti bahwa para pendaftar yang tidak lulus tes tidak diperkenankan belajar di pesantren. Oleh karena itu, mahasantri Darus-Sunnah ini dikategorikan menjadi dua. Yaitu muntadzim dan muntasib. Mahasantri muntadzim adalah mahasantri yang berhak tinggal di asrama.

Kurikulum

Sesuai dengan namanya, sebagian besar kurikulum Darus-Sunnah adalah hadis dan ilmu hadis dan juga pengetahuan keagamaan.

Pengelola dan Tenaga Pengajar (Civitas Akademika)

Darus-Sunnah berada di bawah Yayasan Wakaf Darus-Sunnah dengan Akte Notaris Ny. Lanny Soebroto No. 1/1999. Sementara, pengajar terdiri dari lulusan dalam dan luar negeri. Antara lain, Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub (Doktor Syari’ah Jamiah Nizhamiyyah Hyderabad India, Guru Besar Ilmu Hadis IIQ dan UIN Jakarta), Dr. H. A. Sayuti Anshari Nasution, MA (Lulusan al-Azhar Mesir dan Sudan serta dosen di UIN Jakarta), Dr. Muhbib Abdul Wahhab (UIN Jakarta), Dr. H. Muhammad Shofin Sugito (Lulusan Universitas Sidi Muhammed ben abdellah di kota Fes Maroko), dll.

Darus-Sunnah ke Depan

Sebagai lembaga pendidikan, Darus-Sunnah telah “menelurkan” sarjana-sarjana khususnya di bidang hadis dan ilmu hadis, dan sampai saat ini telah tercatat hampir seluruh alumni telah terjun di masyarakat, menyebarluaskan berbagai khazanah keilmuan Islam sebagai salah satu wujud pengamalan ilmu yang telah mereka peroleh.

Tentu saja, hal ini membuat pihak Ma’had bersyukur dan terus ingin lebih banyak melahirkan sarjana-sarjana yang tulus ikhlas, berakhlak mulia, disiplin, berdedikasi tinggi dan menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan serta mampu mengamalkan dan mengaplikasikannya.

Untuk itu, sebagai salah satu bentuk usaha merealisasikan cita-cita luhur ini, Darus-Sunnah telah mulai memperluas lokasi pesantren sehingga nantinya mampu menampung mahasantri yang lebih banyak lagi. Dalam rangka pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan. Tahun 2014 Darus-Sunnah telah membuka Madrasah setaraf SLTP dan SLTA dengan takhasshus Hadis dan Ilmu Hadis. Dengan demikian, setelah lulus dari Darus-Sunnah, para siswa telah mampu memahami pedoman utama ajaran agama Islam.

Saat ini, Darus-Sunnah telah memiliki tanah seluas hampir 4000 m2 dan kini telah selesai dibangun bangunan baru untuk tingkat Tsanawiyah-Aliyah.