Nasihat Syaikh Abdul Qadir Jilani untuk Menyikapi Pandemi


Hingga saat ini, pandemi Covid-19 belum diketahui kapan berakhirnya. Pandemi yang muncul di Kota Wuhan Provinsi Hubei China pada akhir Desember tahun lalu ini, kini telah menyebar ke 5 benua tanpa terkecuali. Data WHO per 29 September 2020, menyebutkan ada 235 negara/teritori yang terkonfirmasi kasus Covid-19. Total kasus lebih dari 33 juta, sembuh 23 juta dan meninggal dunia 1 juta. Di Indonesia, terkonfirmasi lebih dari 282 ribu kasus, sembuh 210 ribu, dan meninggal 10 ribu. 

Menyikapi data ini, berbagai upaya terus dilakukan. Doa terus dipanjatkan. Dengan harapan, sinergi antara ikhtiar dan doa dapat menjadi jalan terbaik menghadapi musibah pandemi. Meskipun tidak jarang, perbedaan pandangan dan pilihan kebijakan mencuat ke permukaan. Lantas di titik mana agama memberikan petunjukk bagi umatnya? 

Bagi seorang mukmin, musibah adalah sebuah sunnatullah. Kepastian Allah ta’ala bagi hamba-Nya. Musibah merupakan ujian bagi kualitas keimanan. Dalam surat al-Ankabut ayat 2-3, Allah menegaskan bahwa seorang hamba tidak cukup berkata telah beriman, seraya tidak diuji. Allah akan menurunkan ujian dalam bentuk musibah untuk mengetahui orang yang tulus keimanannya atau sebaliknya. 

Dalam surat al-Baqarah ayat 155, musibah ini dapat berupa rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, ataupun buah-buahan. Dalam situasi pandemi Covid-19, pasti di antara kita merasa khawatir dan was-was dengan kesehatan pribadi ataupun keluarga. Aktivitas di luar rumah sangat terbatasi. Kondisi perekonomian mengalami penurunan. Namun demikian, jika kita sabar, yakni dengan terus menyeimbangkan ikhtiar dan tawakal, maka Allah ta’ala menjanjikan berita gembira. Di antaranya adalah pengampunan dosa.

Maka tidak aneh jika dalam hadis shahih riwayat Imam Muslim (204-261 H), kanjeng Nabi Muhammad saw menegaskan bahwa adalah sebuah kebaikan yang besar jika seorang mukmin ditimpa musibah, lantas menerimanya dengan sabar. Karena itu, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani (470-561 H), sempat berwasiat kepada putranya; “Wahai putraku, musibah bukanlah untuk merusak dan membinasakan-mu, tetapi musibah tidak lain adalah untuk menguji kesabaran dan keimanan-mu.”  

Semoga kita dapat bijak menyikapi dan menghadapi musibah pandemi.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *