URGENSI MENYANDINGKAN KAJIAN HADIS DAN FIKIH: Catatan Singkat Webinar Haul Kiai Ali Mustafa Yaqub Ke-5

Darussunnah.sch.id – Dalam beberapa tahun terakhir, diskursus kajian hadis di kalangan umat Islam Indonesia semakin dinamis dan semarak. Lebih-lebih di jagad dunia maya dan di media sosial (medsos), mulai dari facebook, twitter, instagram, hingga di group-group Whatshap  (WA) dan telegram. Meskipun masih sedikit yang menyentuh isu-isu strategis, semisal ekologi, agraria, ekonomi, pemberantasan korupsi, peningkatan kualitas pendidikan, teknologi, dan lain sebagainya, namun “keriuhan” debat permasalahan bid’ah, poligami, isbal, sunnah memanah, sunnah naik kuda dan sejenisnya tetap penting dan perlu.

Berpijak dari semburat fenomena ini, mendesak kiranya dihadirkan sebuah konstruksi metodologis yang dapat menyinergikan antara kajian hadis dan fikih. Sebagaimana dulu telah diujarkan oleh Imam Sufyan al-Tsauri (161 H), “Sekiranya kami menjadi qadhi (hakim), niscaya akan kami pukuli ahli fikih yang tidak mau mempelajari hadis dan ahli hadis yang tidak mau mempelajari fikih”. Pernyataan ini memiliki pesan kuat bahwa sinergi antara kajian hadis dan fikih adalah sebuah keniscayaan. Konsekuensi logisnya adalah akan dapat direngkuh sebuah pemahaman yang lebih utuh, mencerahkan, kritis, dan progresif.

Terkait hal ini, Kiai Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) adalah salah satu dari kiai-akademisi yang telah mengabdikan hidupnya untuk menggumuli kajian hadis dan fikih sekaligus. Tak pelak bila, sumbangan-sumbangan pemikiran alumni Pesantren Seblak dan Pesantren Tebuireng Jombang itu nampak khas dan berkarakter. Terkadang nampak konservatif, namun di banyak hal terlihat kritis dan progresif.

Di antara beberapa tulisan yang beliau rajut dan memancing perdebatan hangat adalah “Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan” (2003), “Haji Pengabdi Setan” (2006), “Kiblat antara Bangunan dan Arah Ka’bah” (2010), “Isbat Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah Menurut al-Kitab dan Sunnah” (2013), “Setan Berkalung Surban” (2014), “Titik Temu Wahabi-NU” (2015), “Islam is Not Only for Muslims” (2016), dan masih banyak lagi. Dari berbagai tulisan ini, pekat sekali penggunaan analisis dan paradigma sinergis kajian hadis dan fikih.

Dalam rangka haul ke-5, keluarga besar Darus-Sunnah bermaksud mengadakan webinar nasional. Tema yang diangkat adalah “Kontekstualisasi Pemikiran Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. dalam Bingkai al-Qur’an dan Sunnah”.  Ada dua hal yang ingin dituju. Pertama, meneladani laku dakwah dan pemikiran Kiai Ali Mustafa Yaqub dalam mengamalkan pesan-pesan mulia Al-Qur’an dan Sunnah. Kedua, menggali inspirasi perjuangan khidmah kepada Nabi dari Kiai Ali Mustafa Yaqub dalam rangka menyandingkan ajaran-ajaran al-Qur’an, sunnah, dan kearifan lokal Nusantara.

 

Lantas, tertarikah anda?

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *