SEPOTONG UJIAN PERJALANAN Catatan Ramadhan dari Tembagapura #01

Oleh: Ustadz Ulin Nuha, MA.
Mata kami terbuka kala Adzan Subuh berkumandang. Tetiba kaki sebelah kiri terasa pegal sangat. Memberatkan langkah untuk beranjak dari dari tempat tidur. Ingatan pun beringsut ke hari sebelumnya, 10 April 2021. Momen demi momen perjalanan hari itu masih teringat betul, sejak dari Darus-Sunnah dini hari hingga akhirnya dapat merebahkan badan di Tembagapura, Papua, hampir dini hari pula.
Pagi itu, beberapa kawan ustadz mengantarkan kami dari Darus-Sunnah menuju Bandara Soekarno-Hatta Tangerang. Mengingat keberangkatan pesawat dijadwalkan jam lima pagi, maka kami pun bertolak dari Ciputat pukul satu dini hari. Namun sedikit malang, saat mulai masuk tol, kami dikejutkan dengan sebatang balok yang malang melintang di jalan. Kendaraan yang sudah terlanjur dalam kecepatan cukup tinggi tak dapat menghindarinya. Sesaat pengemudi oleng hingga akhirnya dapat terkendali. Alhamdulillah selamat. Namun sayang, ban mobil pecah sehingga dengan terpaksa kami menepi. Beruntung masih ada ban serep sebagai pengganti dan kami pun melanjutkan perjalanan setelah setengah jam kemudian.
Pukul 02.30 WIB dini hari kami sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Setelah duduk sejenak, saya berpamitan dengan teman-teman pengantar dan mulai melewati tahap demi tahap ceck in keberangkatan. Terima kasih kami ucapakan kepada Ust. Badrut Tamam, Ust. Apriyadi Ramadhan, Ust. Syarofuddin Firdaus, dan Ust. Fajrin Fauzi. Semuanya merupakan pengajar di Darus-Sunnah.
Tidak butuh waktu lama untuk melewati tahapan demi tahapan check in keberangkatan pesawat, mulai dari pemeriksaan hasil tes Swab Antigen, mengurus boarding pass, melewati metal detector, hingga sampai di ruang tunggu D2 keberangkatan. Pukul 04.00 WIB kami sudah stand by dan siap terbang bersama Airfast Indonesia.
Airfast Indonesia merupakan sebuah maskapai penerbangan di Indonesia yang beroperasi untuk charter flight yang pagi itu kami tumpangi. Di antara yang memanfaatkan maskapai ini adalah sebuah perusahaan tambang yang beroperasi di Papua. Seluruh penumpangnya adalah karyawan dan orang-orang yang memiliki kepentingan ke area tambang tersebut. Sedianya pagi itu pesawat akan melewati rute Bandara Soekarno-Hatta Tangerang menuju Bandara Mozes Kilangin Timika via dua Bandara, yaitu Juanda Surabaya dan Sultan Hasanuddin Makassar.
Menjelang pukul 05.00 WIB, seluruh penumpang mulai diberangkatkan menuju kabin pesawat. Setelah semua komplit, pesawat pun menuju ke landasan pacu diselingi dengan beberapa informasi penerbangan dari pramugari. Turbin pun mulai berputar kencang, gas dipacu, dan perlahan pesawat bergerak semakin cepat. Ketika take-off hampir sempurna, mendadak pilot menahan laju pesawat lalu putar balik menuju terminal. Ada apakah gerangan?
Kami para penumpang pun bertanya-tanya diselimuti kekhawatiran. Seorang pramugari mengabarkan bahwa terdapat kendala teknis pesawat yang menjadikan keberangkatan tertunda. Sembari menunggu peneyelesaian, para penumpang diharap tetap berada di tempat duduknya. Sekira hampir satu jam pesawat diperbaiki. Hingga sekitar pukul 06.00 WIB pesawat mulai beranjak ke landasan kembali. Turbin pun mulai berputar kencang, gas dipacu, dan perlahan pesawat bergerak semakin cepat. Namun lagi-lagi, ketika hampir take-off, mendadak pilot menahan laju pesawat lalu putar balik menuju terminal. Keadaan semakin membuat khawatir.
Para penumpang diantar kembali ke ruang tunggu D2 bandara sembari menanti perbaikan pesawat. Konsumsi diedarkan sebagai pengganjal perut di pagi hari. Kedatangan di Timika yang seharusnya dijadwalkan pukul 14.15 WIT secara otomatis mundur entah berapa lama. Dari Tembagapura, Pak Hardi mengirim pesan kepada kami, “standar safety yang dipakai Airfast Indonesia memang tinggi, tidak perlu khawatir” – terangnya. Alhamdulillah, kiranya hal itu sedikit melegakan.
Hampir pukul 10.00 WIB pesawat baru siap berangkat. Alhamdulillah, semua kendala sirna dan take-off berjalan mulus. Pesawat berada di atas udara sekitar satu jam lima menit, lalu landing di Bandara Juanda Surabaya untuk mengambil penumpang dan mengisi bahan bakar. Sekitar jam 12.00 WIB pesawat naik kembali menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar juga untuk mengambil penumpang dan mengisi bahan bakar. Protokol covid-19 menjadikan para penumpang dari Jakarta maupun Surabaya tidak mendapat service makan, karena berada di bawah waktu dua jam. Sayup-sayup beberapa penumpang balita merengek nangis. “Tampaknya mereka lapar dan kelelahan,” gumamku. Barulah dalam perjalanan dari Makassar menuju Timika service makan kami peroleh.
Airfast Indonesia mendarat di Bandara Mozes Kilangin Timika sekitar waktu Isya’ atau hampir jam 20.00 WIT. Kami mengira akan ada istirahat sejenak sekedar meregangkan badan dan menyentuh nasi. Bahkan biasanya, jika pesawat baru landing di malam hari, maka perjalanan menuju Tembagapura dilakukan esok hari. Namun, ternyata tidak. Setelah melalui beberapa pemeriksaan, kami diarahkan menuju tempat pemberangkatan ke tujuan masing-masing. Kami pribadi memiliki tujuan ke Tembagapura. Untuk menuju ke sana, kami harus ceck in lagi dengan menunjukkan kartu identitas pribadi dan identitas dari perusahaan. Hal ini untuk memastikan atas tujuan apa kami menuju area perusahan tambang itu. Maka hal pertama yang kami cari adalah kartu tersebut. Kami para dai dan imam Ramadhan memperoleh kartu identitas sebagai Visitor.
Setelah semua naik bis, maka perjalanan dari Bandara Timika menuju terminal Tembagapura diberangkatkan. Jangan bayangkan kendaraannya seperti bis pada umumnya. Tidak. Kami menaiki bis yang didesain khusus untuk naik gunung. Bagian penumpangnya memang berbadan bis, tapi bagian sopirnya berbentuk kepala truk. Bisa dibilang bis berkepala truk atau truk berbadan bis. Di sisi kanan kiri dilapisi anti peluru berwarna hitam melingkar ke seluruh badan bis. Maka kegelapan menyelimuti kami sepanjang jalan. Pandangan remang-remang hanya terbatas di dalam bis. Hal ini tidak lain demi keamanan penumpangnya.
Pukul 22.50 WIT, kami sampai di terminal Tembagapura. Sebagai pelengkap standar keamanan dan kesehatan, kami harus tes Swab Antigen sekali lagi, untuk memastikan bahwa kami benar-benar sehat. Setelah hasil “negatif” diumumkan, kami pun berangkat menuju lokasi tujuan dengan menenteng seporsi makanan yang telah disediakan. Kami sampai di Masjid Darussa’adah Tembagapura dengan disambut para pengurus dan jamuan makan malam. Alhamdulillah, akhirnya perut ini menemukan kebutuhannya.
Mengingat kembali perjalanan hari itu rasanya berat sekali dilalui. Tidak hanya melelahkan, tetapi juga kepayahan lagi menahan rasa lapar. Yang lebih menegangkan adalah perasaan khawatir sejak pesawat gagal terbang dua kali. Paranoid menyeruak kala kami telah berada di atas ketinggian 33.000 kaki selama beberapa jam. Semua itu adalah siksa bagi pelaku perjalanan. Hanya rapalan doa demi doa yang terus kami lantunkan. Dari sini, tepat kiranya sabda Nabi saw:
السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ
“Bepergian (safar) itu adalah sebagian dari siksaan, yang menghalangi salah seorang di antara kalian dari makan, minum dan tidurnya. Maka apabila dia telah selesai dari urusannya hendaklah dia segera kembali kepada keluarganya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Meski demikian, beratnya perjalanan manusia di era sekarang ini belum seberapa jika dibanding dengan perjalanan di masa Nabi saw. Kontur tanah Arab yang didominasi gurun yang demikian panas menyengat, ditambah moda transportasi berupa hewan unta yang tidak seberapa cepatnya menjadikan perjalanan semakin berat dan payah untuk dilalui. Belum lagi memakan waktu yang tentu lebih lama.
Sebagaimana termuat dalam banyak sumber, hijrah Nabi saw dari Makkah dimulai dari bulan Shafar dan baru tiba di Madinah pada bulan Rabi’ul Awal. Memang dalam prosesnya tidak sekedar melakukan perjalanan biasa melainkan juga bersembunyi dari orang-orang Quraisy yang mengejarnya. Tetapi pada faktanya memang jarak tempuh Makkah-Madinah mencapai 500-an KM dan membutuhkan waktu berhari-hari jika dilalui dengan mengendarai unta. Berbeda halnya dengan sekarang di mana aneka transportasi telah tersedia.
Maka bersyukurlah kita. Seberat apapun perjalanan, Allah swt masih senantiasa merahmati. Demikian halnya Islam yang memberi aneka kemudahan bagi para musafir. Mereka yang telah memenuhi syarat perjalanan diperkenankan untuk men-jama’ dan qashar shalat fardhu sebagai bentuk keringanan. Juga diperbolehkan untuk membatalkan puasa fardhu.
Lebih dari itu, seberat apapun perjalanan, jika ditujukan untuk kebaikan atau bahkan ibadah, maka yakinlah bahwa Allah swt telah menyiapkan pahala setimpal dengan kepayahan dan sepotong azab yang kita rasakan. Kita akan memperoleh banyak pelajaran dari tempat-tempat yang disinggahi selama perjalanan. Bahwa bumi Allah itu luas. Maka berkelanalah ke bagian bumi yang lain, lalu tafakkuri keindahannya.
Pendaftaran Santri Baru Darussunnah
Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *