Santri dan Mahasantri Darus-Sunnah ikuti Bahtsul Masail 30 Pesantren Jabodetabek di Pesantren al-Hidayah Depok

Dulu, Kanjeng Nabi Muhammad (shalawat dan salam semoga tersanjungkan) melarang sahabatnya untuk mudah mengafirkan antar sesama muslim.

Wasiat penting ini terekam dalam hadis riwayat Sayidina Ibnu Umar dan Sayidina Abu Dzar. Karena itu, dalam literatur-literatur klasik dipertegas lagi, wajib bagi seorang muslim menjauhi perilaku mudah mengafirkan.

Takfiri adalah tindak yang berseberangan dengan tuntunan Baginda Nabi. Sebaliknya, setiap muslim dianjurkan untuk mengedepankan prasangka baik (husnudhon) kepada sesama muslim.

Lebih detail, dalam berbagai rujukan kitab kuning, dijelaskan bahwa tidak boleh bagi siapapun memvonis kafir (murtad) kepada seorang muslim.

Memberikan vonis ini hanya menjadi milik seorang mufti/lembaga yang berwenang. Juga setelah dilakukan prosedur-prosedur syar’i yang panjang dan mendalam.

Tidak serta merta mudah menjatuhkannya. Karenanya, dianjurkan bagi setiap muslim untuk tidak mudah melakukan klaim takfiri ini.

Di antara referensi yang menjelaskan hukum ini adalah Fath al-Mu’in, I’anah al-Thalibin, Mafahim, dan Syawahid al-Haq.

Poin ini menjadi salah satu hasil bahtsul masail yang mengikutsertakan 30 pesantren se Jabodetabek. Tepatnya, 16 Oktober 2021 di Pesantren Al-Hidayah Depok.

Pesantren Darus-Sunnah diwakili oleh mahasantri Ma’had Darus-Sunnah; Ilham Fikri Ma’arif dan Nur Masyhuda. Serta 2 santri Madrasah Darus-Sunnah; Luxman Sya’idun Firdaus dan Bima Abdul Aziz.

Keempat delegasi ini didampingi oleh Ust. Muhammad Hanifuddin.

Ust. M. Hanifuddin bersama Para delegasi pesantren Darus-Sunnah

Delegasi Darus-Sunnah sudah dari pagi hadir di pesantren yang berlokasi di Rawadenok ini.

Pesantren al-Hidayah adalah pesantren yang dirintis oleh almarhum Habib Muhammad bin Yahya sejak tahun 1948.

Meskipun tetap menerapkan prokes, bahtsul masail diikuti dengan penuh antusiasme seluruh peserta.

Suasana Bahtsul Masail 30 Pesantren se-Jabodetabek

Dimulai dari pagi hari, pukul 09.00 WIB hingga sore hari, 16.00 WIB. Kader-kader santri muda Jabodetabek tidak jemu bertukar argumentasi dan referensi.

Suasana Bahtsul Masail 30 Pesantren se-Jabodetabek

Meskipun harus duduk lesehan seharian, mereka nampak menikmati.

Terlebih saat istirahat makan siang, mereka berbaur dan saling sapa.

Selain sebagai media kajian keilmuan, bahtsul masail juga efektif untuk menjadi jalur silaturahmi dan membangun relasi.

Hasil bahtsul masail bisa dilihat di bawah ini atau klik disini.

Hasil-Keputusan-Bahtsul-Masail-LBM-Depok-21-fix

Pendaftaran Santri Baru Darussunnah
Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *