Berawal dari sebuah pengajian tiga orang di kediaman Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA., lalu pindah ke mushalla di kampung Pisangan Barat, hingga dilanjutkan dengan pendirian Pesantren, Darus-Sunnah menapaki sejarah perjalanannya dengan lancar. Sejak tahun 1997, Darus-Sunnah resmi berdiri sebagai Pesantren Luhur Ilmu Hadis yang segmentasinya hanya untuk para mahasiswa. Seiring dengan perjalanan waktu, karakter, kekhasan, dan keahlian yang ditawarkan oleh Pesantren, Darus-Sunnah menjadi daya tarik tersendiri bagi para mahasiswa yang memiliki semangat tinggi untuk mempelajari agama Islam.

Pesantren tersebut didirikan oleh Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Di bawah naungan Yayasan Wakaf Darus-Sunnah yang baru mendapatkan legalitas hukum dua tahun kemudian, dengan Akta Notaris Nyonya Lanny Ratna Ekowati Soebroto, SH., Nomor 01, tanggal 04 Januari 1999. Selanjutnya, Yayasan Wakaf Darus-Sunnah mengalami perubahan AD/ART yang disahkan dalam Akta Notaris Ny. Warsonah Effendi, SH., Nomor 03, Tanggal 24 Maret 2006 oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui SK Nomor. C-885.HT.01.02.TH.2006 pada tanggal 05 Mei 2006.

Kemudian, pada tahun 2006, setelah pendiri yang sekaligus juga ketua Yayasan Darus-Sunnah meninggal dunia, Yayasan ini diketuai oleh putera tungal beliau, yaitu KH. Zia Ul Haramein, Lc. Struktur kepengurusan dan AD/ART Yayasan pun mengalami perubahan seperlunya. Pengesahan perubahan kedua dari Yayasan ini dicatat dalam Akta Notaris Ny. Hana Badrina, S.H., M.Kn., dengan Nomor. 02, Tanggal 08 Juni 2018, dan disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM, dengan nomor AHU-0000458. AH.01.05 TAHUN 2018.

Terkait dengan legalitas Pesantren, pada 18 Januari 2007, secara resmi Pesantren Darus-Sunnah telah mengantongi izin operasional dari Kementerian Agama Republik Indonesia dan terdaftar di Kakandepag Kabupaten Tangerang dengan Nomor Statistik 512280406281. Pada tahun 2018, Pesantren Darus-Sunnah kembali memperbarui izin operasionalnya di Kementerian Agama RI Kota Tangerang Selatan, dan dinyatakan dalam SK Kepala Kantor Kementerian Agama RI Kota Tangerang Selatan, No. 1811/KK.28.08.03/PP.00.7/05/2018, tanggal 15 Mei 2018, dan Nomor Statistik Pondok Pesantren (NSPP) 510036740213.

Spesialisasi hadis dan Ilmu hadis adalah sebuah bidang keilmuan yang sangat langka di Indonesia. Tidak banyak perguruan tinggi yang menyelenggarakan spesialisasi bidang tersebut. Bahkan, lembaga pendidikan Pesantren yang lebih dikenal sebagai lembaga pendidikan keagamaan paling handal pun tidak banyak yang menyelenggarakan spesialisasi hadis dan ilmu hadis. Di sinilah, Darus-Sunnah menjadi satu-satunya Pesantren yang menjadikan bidang keilmuan hadis dan ilmu hadis sebagai kompetensi utamanya.

Setelah berjalan selama 17 (tujuh belas tahun), Pesantren yang semula hanya khusus untuk mahasiswa itu, pada tahun 2014 resmi membuka program baru. Tujuannya adalah mengader ulama sejak usia dini. Dari tujuan tersebut, jelas satu hal yang diinginkan oleh Pesantren Darus-Sunnah adalah generasi ulama tidak boleh putus. Oleh karena itulah, Pesantren Darus-Sunnah merasa perlu untuk mendirikan lembaga pendidikan keagamaan enam tahun setingkat Tsanawiyah-Aliyah untuk mempersiapkan generasi-generasi ulama yang dapat dipertanggungjawabkan keilmuan dan pengabdiannya.

Dengan kurikulum holistik/syamil yang khas Darus-Sunnah, Pesantren ini telah berhasil menarik perhatian banyak masyarakat. Terbukti sambutan positif itu datang dari berbagai daerah di seantero Nusantara. Dari Sabang (Aceh) hingga Merauke, para santri pun berdatangan untuk mendaftarkan diri, menimba ilmu di lembaga baru tersebut, Madaris Darus-Sunnah Enam Tahun Setingkat Tsanawiyah-Aliyah.

Berdirinya Madaris Darus-Sunnah ini juga bukan terjadi begitu saja. Proses yang sangat panjang dan pengalaman mengelola Pesantren mahasiswa selama tujuh belas tahun adalah modal utamanya. Dari hasil penelitian Litbang Kemenag RI, menyatakan bahwa lima puluh tahun ke depan, di Indonesia tidak akan ada lagi ulama yang menguasai kitab kuning, bahasa Arab dan Inggris dengan baik dan benar. Penyebabnya adalah satu, lembaga-lembaga pendidikan Islam saat ini sudah mulai bergeser orientasinya sebagai dampak dari modernisasi dan globalisasi. Akibatnya, tidak sedikit Pesantren yang kehilangan identitas dan orientasi. Bahkan, hampir tidak ada bedanya antara Pesantren dengan boarding school (asrama) di sekolah-sekolah konvensional. Demikianlah, Pesantren seolah-olah telah beralih fungsi sebagai sekadar asrama bagi para siswa sekolah konvensional.

Oleh karena itulah, berangkat dari kekhawatiran tersebut disertai modal pengalaman selama 17 (tujuh belas tahun) mengelola Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences, sebuah perguruan tinggi yang mengadopsi sistem pendidikan pesantren, mulai tahun ajaran 2014-2015 M, Yayasan wakaf Darus-Sunnah membuka Madaris Darus-Sunnah 6 tahun (setingkat Tsanawiyah dan Aliyah). Sebagai tim formatur pendirian Madaris ini diketuai oleh sdr. Andi Rahman, MA. Tim formatur ini bertugas mengantarkan Madaris Darus-Sunnah hingga ke tahap penerimaan santri baru untuk pertama kalinya. Setelah itu, ketua Yayasan sekaligus Pendiri dan Pengasuh Pesantren Darus-Sunnah menunjuk sdr. Ahmad Ubaydi Hasbillah, MA., yang sebelumnya adalah sebagai sekretaris tim formatur, untuk menjadi Ketua PKBM  pertama, terhitung sejak 01 Desember 2013 dan kegiatan belajar-mengajar pun langsung dimulai pada akhir Juni 2014, bertepatan pada 1 Ramadhan 1435 H.

Pada tahun pertama tersebut, jumlah pendaftar mencapai 25 orang, hanya kurang 5 orang kuota terpenuhi. Namun seiring dengan perjalanan waktu beberapa siswa ada yang mengundurkan diri dan pada saat yang sama ada pula beberapa siswa baru yang menyusul. Hingga berakhirnya tahun ajaran 2014-2015 jumlah siswa angkatan pertama bertahan pada angka 18 anak. Barulah saat penerimaan santri baru angkatan kedua, terdapat dua orang siswa pindahan yang setelah dilakukan tes, dapat dinyatakan lolos untuk mengikuti kegiatan pembelajaran kelas dua. Dengan demikian, jumlah angkatan pertama pada tahun 2015-2016 dapat menembus angka 20. Sedangkan untuk angkatan kedua, jumlah santri baru yang belajar di kelas satu adalah 25 siswa, dari 29 siswa yang mendaftar dan mengikuti seleksi masuk.

Sebagai pedoman umum penyelenggaraan pendidikan di Madaris Darus-Sunnah, berikut adalah visi dan misi Madaris Darus-Sunnah:

  1. Visi

Terkait hal ini, Madaris Darus-Sunnah memiliki dua jenis visi yang saling menjelaskan antar satu teknis dengan teknis yang lain, bukan visi ganda, yaitu visi kelembagaan dan visi pendidikan. Visi kelembagaan adalah visi yang ingin dicapai oleh lembaga dalam rangka mengevaluasi kinerjanya. Sedangkan visi pendidikan adalah visi inti yang merupakan ladasan paling mendasar bagi kerja utama Lembaga Pendidikan Madaris Darus-Sunnah.

Adapun visi lembaga Madaris Darus-Sunnah adalah:

MENJADI LEMBAGA YANG UNGGULDALAM PENGADERAN ULAMA

(The True Cadre School of Ulama)

Sedangkan visi Pendidikan Madaris Darus-Sunnah adalah:

MENGADER ULAMA SEJAK USIA DINI

  1. Misi

Dalam rangka menerjemahkan Visi Madaris Darus-Sunnah Ciputat ke dalam tingkat yang lebih aplikatif dan terukur, maka rumusan misi Madaris Darus-Sunnah adalah sebagai berikut:

  1. Menyelenggarakan pendidikan agama yang syamil (holistic) selama enam tahun berbasis kitab kuning, sains dan teknologi, serta seni dan budaya, baik secara teori maupun praktik, dengan kurikulum berbasis active learning, multiple intelligences, dan habitual curriculum;
  2. Melakukan Pembinaan keagamaan yang intensif selama 24 jam dengan kurikulum integratif (integrated curriculum);
  3. Menyelenggarakan dan mengembangkan pendidikan keguruan dan dakwah untuk membangun kompetensi dan keunggulan para kader ulama yang menguasai kitab kuning, berakhlak mulia dan berkomitmen tinggi dalam bidang kependidikan, dan dakwah.
  4. Menyelenggarakan dan mengembangkan pendidikan kepemimpinan guna membangun kompetensi dan keunggulan siswa di bidang organisasi, akhlak dan kepribadian.
  5. Menyelenggarakan bimbingan baca, tulis, hafal, dan penelitian keagamaan berbasis al-Quran dan Hadis;
  6. Menyelenggarakan dan mengembangkan pembinaan intensif di bidang bahasa Arab dan Inggris
  7. Menyelenggarakan pendidikan kemandirian, problem solving, dan cepat tanggap sehingga dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi dengan mudah;
  8. Menyelenggarakan pendidikan life skill dan dan keterampilan guna membangun kompetensi dan keunggulan siswa di bidang Wirausaha;
  9. Membiasakan penciptaan lingkungan yang hijau dan asri.

belum tersedia.

No

Nama

L/P

Jabatan

Pen-

didikan

Th.Lama

Kerja

Unit Tugas

1

Hj. Ulfah Uswatun Hasanah

P

Pembina

S.1

21

Pusat Yayasan

2

Drs. H. M. Zainal Muttaqin

L

Pembina

S.1

21

Pusat Yayasan

3

H. Ahmad Makmun, S.Si.

L

Pengawas

S.1

5

Pusat Yayasan

4

Drs. H. Muhammad Wahid

L

Pengawas

S.1

2

Pusat Yayasan

5

KH. Zia Ul Haramein, Lc., M.Si.

L

Direktur

S.1

2

Pusat Yayasan

6

Dr. KH. Nurul Huda, MA

L

Sekdir

S.3

20

Pusat Yayasan

7

Dr. KH. Ali Nurdin, MA

L

Bendahara

S.3

20

Pusat Yayasan

8

Dr. H. Moh. Shofin, MA.

L

Kepala

S.3

16

Ma’had

9

Dr. Ahmad ‘Ubaydi Hasbillah, MA

L

Kepala

S.3

12

Madaris

10

Muhammad Ali Wafa, S.S.I

L

Kepala

S.1

10

Biksah/DMC

11

Apriadi Ramadhan, S.S.I

L

Kepala

S.1

2

Amal Usaha

12

Hilmy Firdausy, S.Ag.

L

Kepala

S.1

2

AMY Center

13

Tubagus Hasan Bashri, S.S.I

L

TU

S.1

10

Madaris

14

Muhammad Hasan Shobary, S.Fil.I

L

TU

S.1

11

Ma’had

15

Muhammad Hanifuddin, S.S.I

L

Wakakur

S.1

9

Madaris

16

Ahmad Munshorif, S.Kom.

L

Wakasis

S.1

4

Madaris

17

Andi Rahman, MA.

L

Pendidik

S.2

18

Ma’had

18

Dr. Arrazy Hasyim, MA

L

Pendidik

S.3

14

Ma’had

19

Ali Muhammad al-Hudhaibi, MA.

L

Pendidik

S.2

11

Ma’had

20

Muhammad Romli, MA.

L

Pendidik

S.2

15

Ma’had

21

Izzah Farhatin Ilmi, S.Si.

P

Pendidik

S.1

4

Ma’had

22

Hakim Hasan Al-Banna, S.Pd.

L

Pendidik

S.1

3

Ma’had

23

Herly Ramadhan, S.S.I.

L

Pendidik

S.1

2

Ma’had

24

Ulin Nuha, S.S.I, MA.

L

Pendidik

S.1

2

Ma’had

25

Badrut Tamam, S.S.I

L

Pendidik

S.1

2

Ma’had

26

Subhan Makhsuni, Lc.

L

Pendidik

S.1

1

Ma’had

27

Yusni Amru Ghazali, MA.

L

Pendidik

S.2

2

Madaris

28

Asep Ropiudin, S.Pd.

L

Pendidik

S.1

4

Madaris

29

Bagus Harianto, S.S.I

L

Pendidik

S.1

3

Madaris

30

Ibnu Sina, S.S.I

L

Pendidik

S.1

3

Madaris

31

Ahmad Jaozi, Lc.

L

Pendidik

S.1

3

Madaris

32

H. Asep Anwar, S.Pd., M.M..

L

Pendidik

S.2

4

Madaris

33

Nurul Hasanah, S.Ag.

P

Pendidik

S.1

4

Madaris

34

Siti Muawanah, M.Sos.

P

Pendidik

S.2

1

Madaris

35

Imroatus Salehah, S.S.I

P

Pendidik

S.1

3

Madaris

36

Moh. Syaiful Rijal, Lc.

L

Pendidik

S.1

2

Madaris

37

Hilmiyah Azhar, S.S.I

P

Pendidik

S.1

2

Madaris

38

Miftahuz Zakiyah, S.Si.

P

Pendidik

S.1

2

Madaris

39

Zaim Najibudin Rahman, Lc.

L

Pendidik

S.1

1

Madaris

40

M. Luttfi Tanjung, Lc.

L

Pendidik

S.1

1

Madaris

41

Yunal Isra, Lc., S.S.I

L

Pendidik

S.1

8

Madaris

42

Subhan Mahsuni, Lc., S.Pd.

L

Pendidik

S.1

2

Madaris

43

Ja’far Tamam, Lc., S..Ag.

L

Pendidik

S.1

1

Madaris

44

Hisna Humaira, Lc., S.S.I

P

Pembina

S.1

2

Ma’had

45

Nailal Amani, Lc., S.S.I

P

Pembina

S.1

1

Ma’had

46

Fahmi Hasan Salim, Lc., S.S.I

L

Pembina

S.1

1

Ma’had

PROGRAM PEMBINAAN DAN PEMBELAJARAN

 

A. Pengelompokan Mata Pelajaran

Pengelompokan mata pelajaran berdasarkan Kurikulum Holistik Satuan Pendidikan Pesantren Darus-Sunnah yang terdiri dari:

  1. Mata Pelajaran Agama Berbasis Ilmu al-Quran dan Tafsir

Adalah mata pelajaran yang memberikan pembinaan dan pengembangan kompetensi keilmuan dan keagamaan santri berbasis ilmu al-Quran dan tafsir. Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa tiga tahun pertama adalah masa penanaman karakter dan keterampilan di bidang ilmu al-Quran dan tafsir. Santri pada tiga tahun pertama dididik untuk terampil berinteraksi dengan al-Quran serta mencitainya agar dapat berinteraksi dengannya setiap hari. Kompetensi dasar kelompok ini adalah Membaca dan menghafal ayat-yat al-Quran dengan baik, benar, dan lancar.

 

  1. Mata Pelajaran Agama Berbasis Hadis dan Kitab Kuning

Adalah mata pelajaran yang memberikan pembinaan dan pengembangan kompetensi keilmuan dan keagamaan santri berbasis hadis dan kitab kuning. Kompetensi dasar kelompok ini adalah terampil dalam membaca teks hadis dan teks Arab dengan baik, benar dan lancar untuk tingkat tiga tahun pertama. Sedangkan pada tingkat tiga tahun terakhir adalah ahli dalam memahami, mengeksplorasi, dan mengembangkan materi dalam hadis dan kitab kuning.  

 

  1. Mata Pelajaran Agama Berbasis Sains dan Teknologi

Adalah mata pelajaran yang memberikan pembinaan dan pengembangan kompetensi keilmuan agama berbasis sains dan teknologi. Pada praktiknya, santri diajarkan pelajaran-pelajaran sain dan tema-tema yang relevan dalam mata pelajaran IPA, IPS, Matematika, Psikologi Agama, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Dalam hal ini, pelajaran yang diajarkan bukanlah sains murni, melainkan sains yang bernuansa ajaran agama. Melalui pelajaran ini, santri diharapkan mampu menyikapi, memahami, dan mengembangkan kemajuan sains dan teknologi dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan agama.

 

  1. Mata Pelajaran Agama Berbasis Bahasa, Sosial, Seni dan Budaya

Adalah mata pelajara agama yang memberikan pembinaan dan pengembangan kompetensi keilmuan dan keagamaan santri berbasis seni dan budaya. Melalui pelajaran ini, santri diharapkan mampu mengenali, memahami, dan mengembangkan berbagai kekayaan seni, budaya dan tradisi di masyarakat sesuai dengan ajaran agama, melalui ilmu Bahasa, Ilmu Budaya, dan Ilmu Seni.

Pada tingkat lanjut, mata pelajaran kelompok ini juga memberikan pembinaan dan pengembangan kompetensi keahlian di bidang keilmuan dan keagamaan santri berbasis ilmu-ilmu sosial terapan. Tujuannya adalah agar santri memahami dengan baik pola hidup dan masyarakat dan dapat bermasyarakat dengan baik sesuai dengan tradisi yang berlaku dan juga sesuai dengan tuntunan agama. Melalui pembinaan ilmu sosial keagamaan terapan ini, santri diharapkan mampu mendakwahkan ajaran agama kepada berbagai ragam jenis dan pola hidup masyarakat dengan baik dan benar. Pada praktiknya, tujuan ini termanifestasikan dalam beberapa mata pelajaran seperti Sosiologi Dakwah, Antropologi Masyarakat Muslim Indonesia, Ilmu Pancasila dan Kewarganegaraan, dan lain-lain.

 

  1. Mata Pelajaran Agama Berbasis Keterampilan, Keahlian, Pengembangan Kepribadian, dan Kewargaan.

Adalah mata pelajaran agama yang memberikan pembinaan dan pengembangan kompetensi keilmuan dan keagamaan santri berbasis keahlian, pengembangan kepribadian dan kemasyarakatan. Tujuannya adalah agar santri lebih siap untuk terjun di masyarakat dengan bekal kemandirian, kesehatan fisik, dan keahlian vokasional. Dalam praktiknya, pelajaran ini terimplementasikan dalam pelajaran Etika Kewirausahaan, ilmu kesehatan, olah raga, pelatihan-pelatihan, dan kegiatan kurikuler lainnya.

 

B. Kegiatan Kurikuler

Kegiatan kurikuler terdiri dari Intrakurikuler, Ko-Kurikuler, dan Ekstrakurikuler.

  1. Intrakurikuler adalah kegiatan yang jatah waktunya ditentukan dalam jadual pelajaran. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan minimal mata pelajaran. Pada dasarnya, kegiatan intrakurikuler adalah kegiatan tatap muka dengan pendidik dan pengajar.
  2. Ko-kurikuler adalah kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran di kelas sebagaimana terjadual dan bertujuan untuk lebih mendalami, memahami, dan menghayati kegiatan intrakurikuler. Kegiatan ini dapat dilakukan secara perorangan atau berkelompok. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ko-kurikuler dapat diintegrasikan dengan keberadaan asrama siswa.

Di samping itu, untuk mempercepat pencapaian kompetensi dasar santri, kegiatan Ko-kurikuler juga meliputi kegitana pembinaan al-Quran dan Bahasa Arab dan Inggris. Seluruh pembinaan bahasa Arab dan Inggris dalam hal ini adalah bagian dari kegiatan Ko-kurikuler. Konsekuensinya, materi Bahasa Arab dan Inggris tidak dimasukkan dalam struktur kegiatan intrakurikuler, kecuali Nahwu dan Sharaf (Bahasa Arab), dan Grammar (untuk Bahsa Inggris). Dalam hal ini, pembinaan bahasa ada dibawah manajemen lembaga khusus yang menangani bahasa di Madaris, Markaz al-lughah/Language Center.  Hal yang sama juga berlaku untuk kegiatan pembinaan al-Quran, ditangani oleh lembaga khusus, Lembaga Tahsin dan Tahfizh al-Quran (LTTQ) dan kegiatan pembinaan kitab kuning.

  1. Ekstrakurikuler ialah kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran di kelas secara terjadual dan bertujuan untuk memperkaya dan memperluas wawasan, pengetahuan dan mengenal hubungan antara berbagai disiplin ilmu, penyaluran bakat dan minat yang diselenggarakan dalam waktu-waktu tertentu secara berkelompok.

 

Secara umum struktur kegiatan kurikuler santri Madaris Darus-Sunnah Ciputat adalah sebagai berikut:

 

JAM

KE

WAKTU

HARI

SABTU

AHAD

SENIN

SELASA

RABU

KAMIS

JUMAT

FAJAR

04.00-05.00

Qiyamullail berjamaah di masjid, dipimpin oleh santri sendiri secara bergilir (Kokurikuler)

SUBUH

Jamaah Subuh di Masjid. Petugas Imam adalah para ustadz

(Kokurikuler)

1

05.00-05.40

Belajar di Kelas/Intrakurikuler

Istighatsah

2

05.40-06.20

Muhadatsah

SYURUQ

ShoSaSi (Salat sunnah Isyraq/sarapan/siap-siap belajar lagi)/Kokurikuler

3

07.00-07.30

APEL PAGI, Doa belajar, dan Motivasi harian pagi oleh guru jam pertama, musyrif, dan ISDAR

Tanzhif

4

07.30-08.10

Belajar di Kelas/Intrakurikuler

Tanzhif

5

08.10-08.50

Tasmi’

6

08.50-09.30

Tasmi’

7

09.30-10.10

Tasmi’

DHUHA

10.10-10.40

Istirahat untuk Salat Dluha di masjid (Kokurikuler)

8

10.40-11.20

Belajar di Kelas/Intrakurikuler

Tasmi’

9

11.20-12.00

Jumatan

ZUHUR – ASAR

Jamaah Zuhur dan Ashar. Dilanjutkan dengan Tadarus bersama, evauasi harian, makan siang, kecuali Senin dan Kamis.

Selanjutnya, diisi dengan istirahat/tutorial tambahan/ektrakurikuler

10

15.30-16.10

Pembinaan Bahasa Arab dan Inggris/Ko-kurikuler/Ekstrakurikuler

Ekskul

11

16.10-16.50

Ekskul

MAGRIB

Jamaah Salat Maghrib dipimpin musyrif

12

18.00-19.00

Pembinaan Tahsin dan Tahfizh al-Quran/

Ko-kurikuler

Tahlil

Tahsin

ISYA

Jamaah salat Isya, dipimpin mahasantri

13

20.00-21.30

Muzakarah/Ko-Kurikuler

Jamiyah

Muzakarah

14

21.30-04.00

Kokurikuler dan Istirahat Malam

 

C. Pembina Akademik dan Non-akademik

Setiap santri selama belajar di Madaris Darus-Sunnah akan didampingi oleh pembina akademik (musyrif) yang ditunjuk oleh Madaris. Setiap 15 (lima belas) sampai dengan 20 (dua puluh) orang siswa dibina oleh satu orang musyrif. Tugas pokok dan fungsi pembina (musyrif) adalah sebagai orang tua asuh. Adapun uraian tugasnya adalah sebagai berikut:

  1. Mengarahkan santri dalam memenej waktu untuk belajar secara efektif
  2. Menertibkan dan membimbing santri dalam melaksanakan tugas-tugasnya
  3. Memberikan keteladanan yang baik kepada santri
  4. Mengikuti perkembangan santri yang dibimbingnya selama masa studi
  5. Mengadakan pertemuan secara periodik baik secara personal maupun kelompok untuk memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh santri
  6. Memonitor seluruh kegiatan santri selama dua puluh empat jam
  7. Memberikan peringatan dan pengarahan serta rehabilitasi kepada santri yang berperilaku kurang tepat
  8. Membimbing santri dalam memenej keuangan serta mendidikanya agar dapat hidup mandiri dan bertanggung jawab.
  9. Pembinaan dilakukan dengan basis parenting. Karena itu, musyrif adalah orangtua kedua bagi para santri.

 

Pembina (musyrif) bertanggung jawab kepada Ketua PKBM  dan memberikan laporan kepada Ketua PKBM . Sedangkan masa tugas musyrif dalam membimbing dan memberikan supervisi pada dasarnya adalah selama santri yang bersangkutan melakukan studi, yaitu sejak awal studi sampai akhir masa studi. Hanya saja, apabila dipandang perlu, Ketua PKBM  dapat meninjau kembali dan mengganti musyrif dimaksud dengan berbagai pertimbangan yang berarti.  Secara normatif, musyrif bertugas sekurang-kurangnya selama satu tahun.

 

D. Kegiatan Praktikum

Kegiatan praktikum bagi seluruh santri Madaris Darus-Sunnah Ciputat adalah sebagai tindak lanjut pengembangan ilmu secara teoritis, wajib dilaksanakan oleh seluruh santri untuk melaksanakannya:

  1. Praktikum Qira’at al-Quran wa al-Kutub (Tahsin al-Qira’ah) dan Tahfizh, yaitu mempraktikkan teori-teori ilmu tajwid. Praktikum Qira’atul Kutub dilakukan dengan sistem sorogan, mengi’rab (analisis struktur kalimat), mengi’lal (analisis perubahan bentuk kata), dan bahstul masail.
  2. Praktikum Bahasa, yaitu mempraktikkan teori-teori dan kaidah-kaidah bahasa dengan menekankan pada kompetensi membaca, menulis, dan bertutur. Dengan demikian, keahlian yang ditanamkan adalah keahlian mendengar (istima’/listening), keahlian membaca (qira’ah/reading), keahlian menulis (kitabah/writing), keahlian berkomunikasi/bertutur (kalam/speaking), serta keahlian analisis tata bahasa (qawa’id/nahwu-sharaf/grammar). Bahasa yang wajib dipraktikkan adalah Bahasa Arab dan Inggris.
  3. Praktikum Fikih, yaitu mempraktikkan teori-teori fikih, ushul fikih, dan qawaid fikih klasik, serta menemukan relevansinya di masyarakat terkini dengan menekankan pada keahlian memahami persoalan waqi’iyyah di masyarakat serta menemukan dalil-dalil hukumnya secara jeli dengan pendekatan ilmu al-asybah wa al-nazha’ir.

Lebih jelasnya, dalam hal praktikum fikih, terdapat tiga jenis praktikum, yaitu:

  1. Praktikum Fikih Qawli

Praktikum fikih qawli adalah kegiatan praktikum yang dilakukan untuk lebih memahamkan santri terhadap hasil ijtihad para ulama fikih dan memvisualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, santri akan dapat mengamalkan hasil ijtihad para ulama tersebut dengna baik dan benar di bawah bimbingan guru.

Beberapa materi penting yang harus diajarkan dalam praktikum fikih qawli ini adalah: Dzikir dan doa-doa harian, wudlu, tayammum, mandi, menyucikan najis, shalat subuh (baik menggunakan qunut maupun tidak), menyucikan najis bagi shahibul jaba’ir, sunnah ab’ad dan sunnah hai’at dalam shalat, bacaan wajib dan sunnah dalam shalat berikut pemahaman artinya, shalat witir berikut doa dan makna bacaannya, shalat tahajjud berikut doa dan makna bacaannya, shalay isyraq, shalat dluha, salat hajat, salat tahiyatul masjid, shalat gerhana, shalat id, shalat istisqa’, shalat jamak dan qashar, merawat jenazah, shalat bagi orang yang uzur (tidak mampu berdiri), akad nikah, shalat li unsil qabr, tahlilan, muraqqi/bilal (jumat, idul fitri, dan idul adha), walimatul haml (tiga bulanan, tujuh bulanan, dan lahiran/brakahan), dzabîhah (menyembelih binatang), talqin, dzikir fida’, istighatsah, dibaan, barzanjian, manasik haji, dll.

Dalam bidang muamalah, santri juga dibimbing untuk praktikum fikih qawli, misalnya dengan praktikum jual beli, sewa menyewa, pegadaian, dan kegiatan muamalah lainnya yang sekarang banyak berkembang di masyarakat. Dalam praktiknya, santri akan mengadakan kunjungan ke beberapa instansi terkait untuk melakukan pengamatan.

Begitu pula dalam bidang jinayah-siyasah, santri juga dibimbing praktikum fikih qawli dengan cara praktikum qadla’ (peradilan semu), praktikum ilmu pemerintahan (melakukan kunjungan ke lembaga-lembaga negara), seperti DPR, Istana Presiden, KPK, Kepolisian, Markas TNI, dll.

 

  1. Praktikum Fikih Manhaji

Praktikum fikih manhaji adalah kegiatan pembinaan praktik penerapan kaidah-kaidah ushul dalam rangka memahami nash-nash agama untuk menyikapi berbagai permasalahan sosial sehari-hari. Kegiatan ini juga dapat disebut dengan kegiatan praktikum pemahaman dalil-dalil syar’i. Secara praktis, kegiatan ini dilakukan dengan sistem diskusi atau musyawarah/batsul masa’il maudlu’iyyah, mengkaji pendapat-pendapat para ulama dan mendiskusikan metode istinbatnya. Santri juga diajarkan bagaimana mengimplementasikan ajaran-ajaran yang diturunkan dari nash-nash tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.

 

  1. Praktikum Fikih Waqi’i

Praktikum fikih waqi’i merupakan kegiatan pembinaan praktik penatapan fatwa ataupun nasihat-nasihat keagamaan sesuai dengan masalah-masalah yang hidup di masyarakat dengan pertimbangan prinsip-prinsip dasar fikih (ushul ikih dan qawaid fikih). Dalam hal ini, praktik dapat dilakukan melalui kegiatan lembaga fatwa semu dalam bentuk musyawarah maupun praktikum tau’iyah diniyyah.

 

  1. Praktikum Dakwah, yaitu latihan berpidato, ceramah, atau publik speaking.
  2. Praktikum Mengajar/Tadris/Mikro Teaching, yaitu praktik mengajar bagi santri kelas enam. Pelajaran Bahasa diperdalam selama tiga tahun pertama, sedangkan tahun ke-4 dan seterusnya digunakan sebagai praktikum dakwah dan mengajar dengan menggunakan bahasa Arab dan Inggris.
  3. Praktikum Ibadah Sosial dan Pengabdian Kepada Masyarakat, yaitu praktik bermasyarakat yang baik. Melalui program ini, para santri dipersiapkan untuk dapat menghadapi dengan baik dan benar berbagai karakter dan pemahaman keagamaan yang berkembang di masyarakat. Selain itu, para santri juga diajarkan untuk bersikap cepat tanggap terhadap berbagai hal yang berkembang di masyarakat.