Pesantren Terbaik di Indonesia | Hadis & Tahfiz Alquran

pesantren terbaik di indonesia

Profil Pesantren Darus-Sunnah, Pesantren Terbaik di Indonesia

Sejarah Darus-Sunnah, Pesantren Terbaik di Indonesia

Pondok Pesantren Darus-Sunnah adalah pondok pesantren terbaik di Indonesia dalam bidang Hadis. Pesantren Darus-Sunnah ini bermula dari pengajian yang hanya berjumlah tiga orang mahasiswa di ruang tamu rumah KH. Ali Mustafa Yaqub, MA.

Ketiga orang itu ialah Ali Nurdin (sekarang Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan Institut PTIQ Jakarta), Saifuddin (kini menjadi Penghulu di Brebes Jawa Tengah) dan Khairul Mannan (kini mengajar di Brunei Darussalam). Kegiatan ini berlangsung sejak tahun 1996.

Melihat semangat belajar mereka yang tinggi itu, KH. Ali Mustafa Yaqub pun merasa terharu dan kemudian berinisiatif untuk mendirikan pesantren yang selain berfungsi sebagai tempat belajar-mengajar, peserta pengajian juga biasa tinggal di pesantren tersebut (nyantri). Alasannya, jika turun hujan atau ada hal-hal lain yang menghalangi aktifitas pengajian, para santri tetap dapat menghadiri pengajian, selain itu beliau juga tidak ingin menyia-nyiakan hasrat mahasiswa yang terus-menerus datang mengaji.

Gayung bersambut, secara kebetulan di belakang rumah beliau terdapat sepetak tanah. Sebagai langkah awal, KH. Ali Mustafa Yaqub menjadikan lokasi tersebut sebagai bangunan asrama santri. Sempit memang, sehingga bangunan ini terkesan seperti kost-kost-an.

Doa K.H. Dimyati Rais

Meski demikian, orang-orang yang berminat menjadi santri beliau kian membludak. Suatu ketika, di tengah usaha beliau membangun asrama itu, seorang kiai dari Kaliwungu Jawa Tengah, K.H. Dimyati Rais, berkunjung ke rumah beliau.

Kiai Dimyati mengatakan kepada beliau bahwa, tanah yang ada di sebelah rumah beliau ini, kelak akan menjadi pesantren sekaligus asrama putra. Sementara asrama yang sedang dalam proses pembangunan di belakang rumah adalah khusus untuk santri putri.

Tentu saja ucapan Kiai Dimyati yang merupakan doa tersebut, diamini oleh beliau. Meskipun sebenarnya tanah yang ada di sebelah rumah beliau bukan miliknya.

Sikap optimis K.H. Ali Mustafa Yaqub ini membuat menteri agama waktu itu, bapak Tarmizi Taher (Menteri Agama Republik Indonesia), tertarik membantu mewujudkan keinginan beliau.

Melihat kepandaian ketiga mahasiswa tersebut, khususnya dalam bidang hadis, sekelompok mahasiswa mulai berdatangan mengikuti pengajian tersebut, dan menyatakan minatanya untuk mengaji bersama. Keinginan mereka itupun akhirnya mendapat sambutan hangat, dan pada saat itu juga mereka secara resmi mengikuti pengajian.

Santri Semakin Banyak

Semakin lama, peserta pengajian semakin bertambah banyak. Di satu sisi hal ini menunjukan sebuah kemajuan, namun di sisi lain sebaliknya. Sebab, ruang tamu yang selama ini menjadi “kelas” tak mampu lagi menampung mereka. Dan jika tidak segera mencari solusi, proses pengajian tersebut akan tersendat. Namun ini bukan sebuah masalah serius, karena masih ada ruang keluarga yang kapasitasnya lebih besar daripada ruang tamu.

Keputusan mengalihkan lokasi ke masjid ini rasanya cukup tepat sebab tak lama kemudian peserta pengajian bertambah lagi menjadi 40 orang. Dan lebih mengesankan lagi, jumlah tersebut bukanlah sekedar kuantitas belaka. Komitmen dan semangat belajar para peserta pengajian pun cukup besar. Hal ini dbuktikan dengan ketika Jakarta terjadi hujan lebat  yang nyaris me-nyebabkan banjir tahun 1997 lalu, semua peserta pengajian tetap hadir meski rumah mereka jauh dengan tempat pengajian itu.

Adapun sistem perkuliahan di perguruan tinggi yang dia pakai adalah sistem diskusi. Yaitu santri medapat tugas dari guru untuk mendiskusikan berbagai permasalahan bersama temannya.

Ihwal Mahasantri Darus-Sunnah

Mengingat belajar ilmu Hadis membutuhkan kesanggupan memahami bahasa Arab dan juga kepandaian di bidang ilmu-ilmu agama lainnya. Tentu hal ini sangat berat dilakukan oleh mereka yang masih duduk di bangku SD/MI atau SMP/MTs dan bahkan SMA/MA sekalipun.

Atas dasar inilah, Darus-Sunnah memprioritaskan status mahasiswa sebagai santri yang berhak tinggal di sana. Bahkan bisa kita katakan sebagai syarat mutlak.

Setelah resmi menyandang status mahasiswa, barulah mereka yang ingin menjadi mahasantri Darus-Sunnah harus mengikuti tes masuk. Dalam hal ini calon mahasantri harus melewati dua tahapan; pertama, tahap tes tulis yang meliputi tes profesiensi Bahasa Arab (TOAFL), pengetahuan dasar Ilmu Hadis, Ilmu Akidah, dan wawasan sejarah, serta pengetahuan Islam. Setelah lulus tes tulis, mereka harus melewati tahap berikutnya yaitu tes lisan yang meliputi Qira’at al-Kutub (pembacaan kitab-kitab berbahasa Arab), Fahmu al-Maqru’ (memahami isi teks Arab sekaligus mampu menerangkannya), Nahwu  dan Sharaf, wawasan Ilmu Hadis, penguasaan bahasa Arab-Inggris dan psikotes.

Dari sinilah, akhirnya tanah yang ada di samping rumah dapat dibeli. Kemudian mulailah proses pembangunan gedung berlantai dua. Setelah pesantren ini benar-benar berdiri, salah seorang santri tertua beliau, bapak Ali Nurdin mengusulkan nama Darus-Sunnah sebagai nama pesantren. Dan mahasantri muntadzim inilah yang lulus dalam kedua tes tersebut. Sedangkan mahasantri muntasib adalah mahasantri yang tinggal di luar asrama. Baik mahasantri muntadzim maupun mahasantri muntasib, keduannya memperoleh pelajaran yang sama.

Mengingat seluruh mahasantri Darus-Sunnah adalah mahasiswa di berbagai  perguruan tinggi di Jakarta, maka dalam hal ini pesantren memberikan kelonggaran kepada mahasantrinya untuk aktif di berbagai organisasi kampus, baik yang intrakurikuler maupun yang ekstrakurikuler, dengan syarat tidak melanggar aturan-aturan Darus-Sunnah, dan tidak menganggu pembelajaran di Pesantren.

Ihwal Kegiatan Akademis

Dalam proses kegiatan belajar-mengajar, Darus-Sunnah menerapkan sistem yang merupakan kombinasi antara sistem pesantren dan sistem perkuliahan di perguruan tinggi, yaitu antara dzikir dan fikir.

Metode pesantren tersebut adalah bandongan (muhadharah) yaitu guru menerangkan dan santri mendengarkan serta memahami. Selain sistem tersebut, ada juga sistem sorogan yaitu santri membaca kitab sementara pak kiai menyimaknya kemudian mengoreksi dan menanyainya. Hal ini merupakan tuntutan akademis pesantren. Yang juga karena keterbatasan tempat yang tidak mungkin menampung seluruh pendaftar yang jumlahnya mencapai ratusan.

Meski demikian, bukan berarti bahwa para pendaftar yang tidak lulus tes tidak boleh belajar di pesantren. Pesantren Darus-Sunnah mengkategorikan mahasantri menjadi dua, Yaitu muntadzim dan muntasib. Mahasantri muntadzim adalah mahasantri yang berhak tinggal di asrama. Sedangkan Muntasib adalah mahasantri yang tidak tinggal di asrama.

Yuk daftarkan diri anda di Pesantren Darus-Sunnah, Pesantren Terbaik di Indonesia.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *