PERSIAPKAN DIRI SEPENUH HATI-SEPENUH TUBUH, BUKAN SEKEDAR MATERI AJAR! (2/3)

walaa tamutunna illa wa antum katibuun

Oleh: Ahmad Ubaydi Hasbillah

Ya, kalau dilihat dari sisi materi pelajaran, sah-sah saja kita punya anggapan bahwa kita sudah kebanyakan persiapan. Namun, dari segi kesiapan dan kesadaran, ternyata satu kelas anak-anak kalah dominan dengan kelas-kelas orang dewasa dan orang tua. Praktis, goal-nya juga tidak tepat. Ibarat bermain bola, kami terlalu fokus pada posisi penjaga gawang dan lupa pada peluang-peluang posisi yang dapat dimasuki oleh bola. Kami seolah lupa bahwa bola juga bisa masuk lewat pojok atas dan bawah gawang, bahkan juga bisa masuk lewat bawah kaki penjaga gawang.

Jadi, persiapan mengajar itu bukan masalah materinya yang utama. Persiapan materi pelajaran itu bisa saja berlaku utama bagi guru yang mengajar selain bidang studinya. Namun persiapan tujuan dan strategi atau aktifitas di dalam kelas nanti hendak melakukan apa saja. Itu yang terpenting.

Sejak kami mengubah pola persiapan kami, kami pun dalam satu tahun ini merasakan kenikmatan yang luar biasa. Hasilnya sudah mulai bisa dicicipi sejak sedini mungkin, semoga semakin manis lagi hasil tersebut pada 40-50 tahun mendatang.

Saat ini, yang kami persiapkan untuk mengajar adalah bagaimana kami menyadarkan diri bahwa yang kami ajarkan adalah anak-anak, bukan orang dewasa. Kami harus bersiap untuk mengalihkan diri dari dunia orang dewasa ke dunia anak-anak pra-remaja. Self-switching, kira-kira begitulah kami menyebut. Goal mengajar anak-anak dalam hal ini adalah โ€œbisa membaca, bisa menerjemahkan, bisa menyampaikan kembali kandungan sederhana yang praktis dan aplikatif, tidak perlu banyak-banyak dan perlu banyak sekali pengulangan aktif oleh mereka sendiri. Praktis, satu hadis boleh jadi cukup untuk mengajar dua pertemuan.

Lebih dari itu, karena sistem evaluasi pendidikan kita masih belum bisa move on dari hasil tes atau ujian dengan cara menjawab soal, maka kita juga wajib merumuskan persiapan kita dalam setiap pertemuan itu dengan hanya satu atau dua pertanyaan saja. Jangan banyak-banyak! Maksimalnya hanya boleh 3 pertanyaan saja. Itu menurut pengamatan dan penelitian kami pribadi selama tujuh tahun ini. Simpelnya, kalau dulu persiapan itu selalu rumuskan dalam bentuk Silabus dan RPP, itu bukanlah persiapan yang keliru, melainkan kurang mengena menurut hemat kami. Silabus dan RPP tetap bisa dianggap penting sekali, terutama di awal semester dan untuk merumuskan goal pendidikan secara makro. Tapi secara mikro di kelas, untuk setiap pertemuannya, tentu Silabus yang telah ditekniskan menjadi RPP itu harus dirumuskan kembali menjadi satu sampai tiga pertanyaan saja untuk dijadikan pedoman pelaksanaan kegiatan KBM di kelas supaya terarah pada goal yang nantinya kita jadikan sebagai bahan evaluasi di akhir pelajaran dan akhir semester.

Sekali lagi, ini berlaku jika kita masih belum bisa move on dari sistem evaluasi pendidikan berbasis tes dan ujian soal. Tapi kalau kita sudah bisa beralih ke dunia merdeka belajar, ya ini justru menjadi jalan pintasnya, tanpa perlu ribet-ribet menyusun Silabus dan RPP yang sangat teknis-administratif itu. Maksud saya begini, dengan satu sampai tiga pertanyaan rumusan mengajar itulah kita aktifitas kita bisa terfokus dan terarah. Pertanyaan rumusan ini tentunya sudah harus kita pertimbangkan matang seperti halnya saat menyusun silabus dan RPP. Selanjutnya, satu sampai tiga pertanyaan itulah yang nantinya juga akan kita jadikan materi ujian atau tes di akhir semester. Dengan begitu, juga akan bisa dipastikan bahwa guru mengevaluasi dan menguji apa yang telah ia ajarkan, bukan menguji hal yang tidak ia ajarkan atau mengevaluasi yang hal yang bukan menjadi goal pengajaran. Ibarat main bola, tidak mengevaluasi tendangan ke gawang, melainkan mengevaluasi penonton yang bersorak ria ataupun mengevaluasi iklan-iklan yang berseliweran di sekeliling lapangan.

….bersambung satu lagi… ๐Ÿ˜Š

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *