PERSIAPAN MENUJU PAPUA; Cerita Kami di Bumi Cendrawasih #01

darussunnah.sch.id – Semua berawal dari tanggal 27 Maret lalu, saat Surat Keputusan Khadim Ma’had tentang Dai Ramadhan Program Biksah Darus-Sunnah 2021 ke bumi Papua resmi terbit dan dibagikan kepada kami. Ini tentang mereka yang akan bertugas Ramadhan di tanah Papua.
Mereka yang dianugerahi kesempatan tersebut adalah :

Ustadz Amin Nurhakim, ditempatkan di Masjid Al-Aqsha di Kampung Skouw di perbatasan Indonesia dengan negara Papua New Guinea

Ustadz Husain Ali Zainal Abidin, yang ditugaskan menjadi imam di Masjid Agung As-Solihin, Jayapura, Papua.

Ada Ustadz Subkhan Makhsuni, yang diterbangkan menuju Kampung Lilinta, Raja Ampat, Papua, untuk menjadi pengasuh masyarakat di sana.

Dan saya, Ja’far Tamam, yang diberikan kesempatan berkhidmat di IAIN Fattahul Muluk Papua, Jayapura.
Nama-nama di atas adalah mereka yang ditugskan menghabiskan bulan Ramadhan di Papua. Di sana kami diagendakan untuk memberikan pengajaran, pengkajian dan lain-lain, tergantung kondisi di mana kami ditempatkan.

Perlu dijelaskan secara singkat di sini, Biksah adalah program pesantren Darus-Sunnah Ciputat berupa pengutusan tenaga dakwah ke pelosok Nusantara. Didasari semangat juang Almarhum Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub (semoga Allah merahmati beliau) dalam menyebarkan dakwah Islam kepada khalayak luas, Darus-Sunnah melalui program Biksah Darus-Sunnah ini telah beberapa kali menyebarkan tenaga dakwah ke pelosok negeri.

Tujuannya adalah menebarkan nilai dakwah Islam di daerah pelosok Indonesia dan berkhidmat di dalamnya.
Saat itu, dalam benak kami, hanya tergambar secara sekilas suasana kehidupan di daerah yang dikenal dengan bumi Cenderawasih tersebut. Pengenalan kami terkait bumi Papua hanya berupa mengumpulkan kepingan puzle dari kisah pendahulu kami yang sudah pernah berdakwah di sana, ditambah menimbah informasi dari mbah Google tentunya.

Beruntung, tak lama kemudian, Ustadz Dzulhikam Masyfuqil Ibad, Ustadz Darus-Sunnah yang dipercayai mengepalai program Biksah Darus-Sunnah tahun ini, segera mengadakan pertemuan antara kami dengan pihak yang mengurusi kami di Papua sana, yang dalam hal ini diwakili oleh Ustadz Dr. Syukri Nawir, MA (Syukri Nawir), kepala Pengabdian Masyarakat IAIN Fattahul Muluk Papua yang juga merupakan karib almarhum Prof. Kiai Ali Mustafa Yaqub dan santri-santrinya yang pernah berkunjung ke bumi Papua.

Pada kesempatan itu, seperti tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka untuk mengetahui ihwal Papua, kami bertanya tentang segala kemungkinan yang terjadi di Papua ; medan yang harus kami hadapi, kondisi sosial masyarakat di sana, ihwal apakah jaringan Tri masih hidup di sana, sampai soal keamanan tinggal di sana, maklum, belakangan sempat beredar berita-berita yang menarasikan kondisi Papua dengan daerah yang sarat kekerasan akibat konflik kekerasan beberapa elite dengan organisasi tertentu di sana.

Jawaban yang kami terima sungguh memuaskan dan melegakan. Bagi kami, informasi yang kami dapati dari beliau Ustadz Syukrie saat merupakan informasi yang sangat berharga. Sedikit demi sedikit hati kami tambah mantap untuk menebar manfaat di bumi Papua sana.

Alhamdulillah. Selasa malam, 06 April lalu, hati kami berat sekaligus bahagia. Berat karena akan meninggalkan pondok yang selama ini menjadi tempat belajar kami, tempat kami menimba hikmah dari guru-guru kami, bahagia karena sedikit lagi kami akan diberikan kesempatan untuk berdedikasi di tanah orang, berupa berguna meski mungkin tidak seberapa.

Acara pelepasan yang diadakan di Masjid Muniroh Salamah Darus-Sunnah tersebut adalah momen penting dalam lembaran hidup kami. Dipampang berjejer di shaf terdepan, diperkenalkan masing-masing dari kami berikut medan juang yang akan kami hadapi.

Kata Ustadz Ali Hudaibi, koordinator Lembaga Pengabdian Dakwah Masyarakat (LPDM) Darus-Sunnah, dalam sambutannya saat itu, “Keberangkatan para dai Ramadhan ini diharapkan menjadi langkah awal dari pengabdian-pengabdian lanjutan yang diadakan antara alumni Darus-Sunnah dengan Papua.” Sembari mengutip ungkapan Ustadz Syukri, beliau mengatakan, “Di Papua itu santrinya banyak, bangunannya sudah bagus-bagus, cuman kiyainya yang belum ada.”Khadim Ma’had Darus-Sunnah, KH. Zia Ul Haramein, yang sedianya hadir pada kesempatan tersebut, namun berhalangan mengikuti acara, menitipkan pesan pada kami :

“Salam Kami untuk para Dari
Semoga menjadi suri tauladan di tanah Papua
Kuatkan niat dan doa
Ikhlas demi dakwah fi Sabilillah
Semoga mendapat pengalaman baru, relasi, dan tentunya pahala dari-Nya
Selamat jalan para pejuang sunnah
Doa kami selalu menyertai antum semua”

Usai pertemuan tersebut, kami melepas sauh menuju bandara Soekarno Hatta. Iringan 2 mobil segera menuju bandara, kami berempat yang bertugas bersama Ustadz Ali Hudaibi, satu mobil lagi berisi barang-barang yang akan kami bawa.

Selama perjalanan, tak lupa kami menggali informasi dari beliau Ustadz Ali Hudaibi yang sudah malang melintang berjuang dan berdakwah di daerah paling timur Indonesia tersebut.

Sesuai instruksi tiket yang kami pesan, kami akan terbang dari terminal 2D menggunakan pesawat Sriwijaya Air. Pesawat yang tumpangi akan terbang sesuai jadwal pada 01.30 WIB hari Rabu tanggal 07 April 2021.

Kendati masih lama dari jam penerbangan, kami yang tiba hampir 4 jam sebelum keberangkatan pesawat tidak sia-sia, pasalnya, pada waktu yang sama, Ustadz Syukri dan Ustadz Yasin (karib Ustadz Syukri yang mengurus kami selama di Papua), juga tiba dalam waktu bersamaan dengan kami.

Kesempatan untuk ngobrol-ngobrol soal Papua terbuka lebar, apalagi momen ini dimanfaatkan oleh Ustadz Ali Hudaibi bernostalgia dengan mereka berdua. Bertukar kabar dan merayakan kisah-kisah lama.

Yang ditunggu tiba, waktu penerbangan sisa beberapa menit lagi. Segala berkas yang diperlukan berupa tiket dan surat keterangan bebas covid 19 kami persiapkan, berikut barang-barang yang akan kami bawa. Salam perpisahan pada rombongan pesantren yang mengiringi kami menandakan bahwa perjalanan harus terus dilanjutkan.

Lamat-lamat, di antara deru mesin pesawat yang lalu lalang di bandara, pesan-pesan yang disampaikan oleh KH. Zia Ul Haramein, Khadim Ma’had Darus-Sunnah, saat pertemuan beberapa waktu lalu kembali terngiang. Dalam pesannya, beliau mengatakan, “Jaga nama baik Darus-Sunnah, jaga nama baik Pak Kiai. Junjunglah setinggi-tingginya budaya dan ada istiadar setempat. Berdakwalah dengan adem dan tidak frontal, adaptif terhadap lingkungan setempat.”

Seruan persiapan penumpang Sriwijaya Air dengan tujuan akhir Jayapura terdengar lantang melalui pengeras suara bandara.

Kami bergegas menyiapkan dan memantapkan diri….

Penulis:Ust. Jafar Tamam, LC., S.Ag.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *