PENTINGNYA GURU PERSIAPAN MENGAJAR SECARA TEPAT (1/3)

Oleh: Ahmad Ubaydi Hasbillah

Rabu siang itu, kami, para guru ngobrol rutinan di kantor. Mendiskusikan hal-hal ringan dinamika mendidik para generasi agama dan bangsa. Suasanya rileks, santai, duduk lesehan melingkar, di tengah ada aneka ragam minuman yang siap diseruput. Ini adalah sunnah hasanah bagi setiap pendidik yang peduli akan tanggung jawabnya sebagai pendidik, untuk bersama-sama maju menjauh dari tipu daya kebodohan.

Mendidik memang unik dan asyik. Unik karena tidak bisa dimutlakkan menggunakan satu atau dua cara. Ia dilakukan dan dialami oleh setiap orang, pada waktu, di tempat dan dalam momen yang berbeda-beda. Praktis, tekniknya pun tidak sama. Ia juga butuh proses dan waktu yang sangat panjang. Aktifitasnya mungkin tidak banyak, dilakukan dengan penuh kerja keras, tapi hasilnya baru akan dapat dilihat dan dinikmati 30 sampai dengan 50 tahun setelah proses itu selesai. Bahkan tak jarang, yang melihat dan menikmati langsung hasilnya adalah orang lain, bukan kita sebagai pendidik, karena boleh jadi sebelum melihat hasil, kita telah berpulang kehadirat Allah. Mendidik itu asyik karena selalu berubah-ubah, tidak ada yang pasti. Juga, karena ia serba misterius. Belum lagi, kalau kita diperkenan oleh Allah untuk melihat dan menikmati langsung hasil didikan kita. Rasanya itu tiada tara.

Dulu, kami mengalami mendidik siswa dalam jumlah yang sangat sedikit. Enak sekali, kami bisa fokus dan dekat dengan semua siswa. Asyik sekali, karena bisa membimbing mereka berkarya di usianya yang sangat dini. Ada semacam kenikmatan yang tak bisa diungkap dengan kata-kata. Lalu, tahun berikutnya dan berikutnya lagi tantangan makin besar karena jumlah siswa dan kelas juga tidak lagi satu. Akibatnya, perhatian terbelah, fokus pun pecah karena di samping kami harus memimpin lembaga, juga harus mengajar di 4 kelas. Mengajak mereka untuk berkarya pun kembali menjadi sulit. Kami pun menganggapnya wajar hingga berjalan sekitar 5 tahunan.

Tahun ke-enam, kami kembali fokus pengembangan lembaga, hingga akhirnya hanya mengajar satu kelas dan satu mata pelajaran saja. Pengembangan bisa melejit jauh dan cepat. Tapi, kami juga jadi bertanya-tanya kenapa satu kelas dan satu mapel itu tidak sesukses satu kelas dan satu mapel enam tahun lalu? Padahal, dulu itu juga sebagai kepala yang tugasnya masih sama persis dengan saat ini. Artinya, beban, tugas, tanggungjawab, kewenangan, dan sebagainya masih sama persis dengan enam tahun lalu. Bahkan boleh dikata, enam tahun lalu juga tak kalah berat karena masih pertama kali belum berpengalaman, sedangkan kini enam tahun adalah bukan waktu yang sebentar untuk menjadi berpengalaman.

Dari situ, kami baru paham bahwa kami keliru menganalisis dan salah menyimpulkan. Analisis kami pada kuantitas kelas dan siswa semata, sehingga kesimpulannya adalah tidak bisa fokus. Itu memang benar memiliki pengaruh terhadap kualitas kinerja sebagai kepala maupun sebagai guru pengampu mata pelajaran di kelas. Namun, setelah dianalisis ulang, tampaknya bukan hal itu penyebab utamanya. Kami ternyata, belum menganalisis faktor lain. Kondisi kami pribadi. Jadi, alih-alih kami menyalahkan situasi dan kondisi, kami lupa mengorek diri dan mengoreksi pribadi kami.

Benar saja, ketika data yang kami analisis coba kami tambah, hasilnya pun terbukti berbeda. Kami tidak menyadari bahwa kami sudah doktor, memiliki kebiasaan mengajar mahasiswa S-1 dan pascasarjana di kampus dan di pesantren, juga mengajar bapak-ibu serta kakek-nenek di majelis-majelis taklim. Materi yang kami ajarkan sama-sama di bidang hadis semuanya. Kami mengajar satu kelas. Sedangkan dulu, kelas yang kami ampu tidak beragam seperti itu. Hanya anak kelas satu Tsanawiyah ditambah mahasiswa S1 saja. Mungkin sampai di sini, alasan pecah fokus dan kesalahan situasi masih bisa dibenarkan. Ya, itu bisa dianggap benar kalau pengamatan kita tidak pakai eksperimen dan percobaan.

Pada tahun ke-7, saat kami berada di puncak masa jabatan sebagai kepala sekolah, kami mencoba eksperimen baru untuk menguji kembali tesis tentang diri kami itu. Kami merenungkan kembali, apa penyebabnya. Kami tetap yakin bukan anak-anaknya yang menurun kualitasnya. Kami mecoba membuang jauh-jauh dari benak pikiran kami bahwa anak sekarang menurun, makin tidak bagus, sulit paham, kurang pinter, malas, tidak seperti dulu yang pinter-pinter, kalau diajari langsung nyambung, dan sebagainya. Tidak, mindset seperti itu sudah kami haramkan untuk otak dan hati kami sejak kami terjun langsung di dunia pendidikan.

Benar saja, bukan anak-anak penyebabnya, melainkan kami pribadi. Kami selama ini tidak sadar bahwa tanpa disadari kami mengajarkan hadis kepada anak kelas satu MTs seperti mengajar mahasiswa S1 bahkan mahasiswa S2. Betapapun metodenya sudah kami bedakan, ternyata tanpa disadari apa yang kita ajarkan di mahasiswa terbawa masuk ke kelas Tsanawiyah. Boleh jadi, targetnya dan kecepatan mengajarnya juga ikut-ikutan terbawa ke sana. Itu kami sadari ketika kami buka lembaran-lembaran dan coretan yang kami gunakan untuk mengajar anak-anak, ternyata memang ketinggian untuk seusia mereka. Sebenrnya tetap saja hal sederhana yang kami ajarkan, namun lebih banyak wawasan dan penjelasan atau contoh yang terlalu tinggi, atau bahkan bahasa yang kami gunakan.

Sejak itu, kami menyimpulkan bahwa persiapan mengajar itu penting sekali. Barangkali dulu kami kurang persiapan mengajar karena merasa, ah yang akan saya ajarkan adalah materi yang sudah saya kuasai, bahkan saya sudah menulis sendiri bukunya. Ah, Ini kan sudah berkali-kali kami ajarkan setiap tahun. Ah, yang kami hadapi kan bukan anak-anak yang sudah ahli di bidang ilmu keagamaan, sehingga tidak perlu persiapan matang-matang. Sebenarnya, kami bukannya tidak persiapan saat hendak mengajar anak-anak. Justru boleh dibilang kami over persiapan, kebanyakan persiapan. Betapa tidak, sebelum kami sampaikan di kelas, sudah kami sampaikan di pengajian, juga kami sampaikan sebagai contoh analisis saat mengajar di kampus. Jadi, tidak kurang persiapannya. Namun, kami mempersiapkan hal yang keliru. Seharusnya bukan materi pelajaran yang kami persiapkan, melainkan kesiapan dan kesadaran kita.

….. (bersambung)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *