Ideologi dan Sikap Politik Perawi Hadis Harus Disikapi Berimbang

Oleh : Moh. Iqbal Syauqi, S. Ked.

Darus-Sunnah- Sebagai salah satu rangkaian Haul Kedua KH. Ali Mustafa Yaqub, Darus-Sunnah mengadakan kuliah umum Hadis pada Sabtu 10 Maret 2018 di Aula Pesantren Darus-Sunnah. Kuliah umum yang bertajuk “Pengaruh Ideologi dan Politis dalam Periwayatan Hadis” ini diampu oleh salah satu pengajar Pesantren Darus-Sunnah, Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah.

“Dalam periwayatan hadis, adanya kecenderungan ideologis tak bisa kita abaikan,” demikian terang doktor bidang hadis lulusan UIN Jakarta ini. “Bahkan dalam perkembangan kalangan ahlul hadits juga erat kaitannya dengan perdebatan wacana dengan golongan Islam lainnya.”

Ideologi adalah hal yang bersifat samar namun pasti melekat untuk orang. Hal ini memengaruhi kecenderungan guru dan murid, pilihan hadis-hadis yang disampaikan, hingga cara memahami hadis. “Namun hal ini tak bisa digeneralisir untuk semua periwayatan hadis.” tambah Ustadz Ubayd, demikian pria asal Jombang ini biasa disapa para santri.

Selain motif ideologi yang bisa dilacak melalui pengakuan sang perawi hadis atau keterangan ulama, profesi kalangan perawi hadis juga menjadi sasaran kritik untuk ulama hadis yang dianggap dekat dengan penguasa. “Ibaratkan saja ada beberapa perawi yang menjadi pegawai dinasti, semacam PNS (Pegawai Negeri Sipil) untuk sekarang. Banyak perawi yang diangkat menjadi qadli atau hakim setempat.” Bahkan pada taraf tertentu, hadis-hadis yang diriwayatkan menjadi legitimasi kekuasaan.

Ustadz Ubayd memberikan polemik apakah hadis ini diriwayatkan dalam rangka ideologis, politis atau murni kerja-kerja akademis dan intelektual. Kepala Madrasah Darus-Sunnah ini mencontohkan kasus Imam Malik bin Anas yang menolak keras riwayat hadis beliau dalam Al Muwaththa’ dijadikan sandaran hukum dinasti masa itu.

“Hal ini menunjukkan bahwa kendati memang bias ideologi itu masih menjadi problem, tapi bukti perjalanan periwayatan hadis ke negeri-negeri yang jauh juga membuktikan bahwa hadis diriwayatkan secara akademis. Kasus tadwinul hadits yang selama ini dianggap sebagai permulaan pembukuan hadis harus dipahami sebagai restu penguasa untuk aktivitas ini.”

Dalam sesi diskusi, Ustadz Ubayd menyebutkan bahwa analisis dan kritik periwayatan hadis perlu disesuaikan dengan masa sekarang. “Era media sosial saat ini membuat para pengkaji hadis harus membuat analisa baru tentang persebaran hadis. Ingat, hadis adalah ilmu informatif, dan barangkali kurang bijak jika ilmu hadis dikritisi dengan model analisa ilmu lain. Kajian hadis perlu dikritik dengan kajian bidang hadis juga.”

Pengajar asal Jombang ini menawarkan bahwa dalam memahami hadis-hadis perlu dilakukan takhrij yang komprehensif (syamil) serta melakukan analisis konten. “Dengan demikian, kita bisa menguji suatu riwayat yang harus ditelaah seluruh sanad dan konten matannya, dan ini perlu dipahami secara cermat dan berimbang.” (Muhammad Iqbal Syauqi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *