Hakikat Nyantri adalah Mengabdi

nyantri

Dalam acara Kamisan, rutinan pemberian tausiyah Ust. Hasan Sobari Lc. S. Th. I. kepada santri Madrasah Darussunnah, Ust. Acan (begitu beliau akrab disapa), menuturkan kilas kehidupan seputar pesantren. Tema besar yang disampaikan adalah tentang hakikat nyantri adalah mengabdi.

Di sore tanggal 27 Agustus 2020 tersebut, usai santri melaksanakan shalat Ashar berjamaah dan mengaji al-Qur’an, Ust. Acan memulai degan mengajukan pertanyaan menarik kepada para jamaah “siapakah santri pertama dalam islam?” Mayoritas hadirin terdiam, hanya saja kemudian ada yang menjawab, “Ali bin Abi Thalib.”

Beliau melanjutkan dalam wejangannya bahwa Imam Ali bin Abi Thalib merupakan santri pertama yang mondok di pesantren yang dipimpin oleh Rasulullah Saw langsung. Kemudian diikuti oleh Anas bin Malik.

Demikianlah kemudian keduanya belajar tentang Islam dari sang Rasulullah Saw langsung. Sebagai santri pada umumnya, keduanya berkhidmat mendedikasikan diri mereka untuk melayani sang guru, Rasulullah Saw. Rutinitas Rasulullah Saw dibantu oleh kedua santri ciliknya tersebut.

Menjadi santri adalah mewakafkan diri untuk pengabdian, menjadi pelayan. Menjadi pelayan untuk guru-gurunya, ustadz-ustadznya, kiainya, dan orang-orang berperan di pesantren tempat ia belajar.

Contoh lainnya adalah yang pernah dilakukan oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama yang sekaligus juga pendiri pesantren Tebu Ireng. Saat beliau nyantri dengan KH. Kholil Bangkalan, KH. Hasyim mengabdi dengan sepenuh jiwa melayani gurunya. 

Pernah ada suatu kejadian, ketika KH. Hasyim Asy’ari mengetahui bahwa cincin yang dimiliki oleh gurunya jatuh ke dalam septic tank, tempat pembuangan kotoran. Betapa sedihnya KH. Kholil atas kejadian tersebut. Tak tega melihat gurunya bersedih, KH. Hasyim Asy’ari nekat menceburkan dirinya ke kubangan tempat cincin gurunya tersebut, kemudian menyelamatkannya.

Betapa bahagianya sang guru saat cincinnya kembali ke tangannya berkat jasa sang murid, tak heran karena cincin tersebut adalah cincin pernikahannya.

Demikian pula yang terjadi pada almarhum KH. Ali Mustafa Yaqub, pendiri pesantren Darussunnah, saat nyantri kepada Kiai Idris Kamali di Tebuireng. Saat nyantri, KH. Ali Mustafa Yaqub kerap berkhidmat melayani gurunya, merapikan sandalnya, membersihkan kamar mandinya, dan lain-lain. Dan banyak lagi khidmat yang dilakukan beliau saat nyantri dulu.

Menutup tausiyahnya, Ust Acan menegaskan bahwa pengabdian yang dilandasi dengan keikhlasan akan melahirkan keberkahan hidup. Hal ini terbukti dari sosok-sosok yang beliau ceritakan di atas. Mereka ikhlas dan tulus melayani guru-gurunya, totalitas berkhidmat membantu kiainya, karena itu kemudian mereka mendapat keberkahan, menjadi tokoh besar yang dicintai oleh santri dan umat. (Jafar)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *