GUS DUR, KIAI ALI MUSTAFA YAQUB, DAN PAPUA; Catatan Singkat Menyambut Dai Darus-Sunnah dari Papua

darussunnah.sch.id – Pagi ini, 20 Mei 2021, hampir 2 jam, kami berbincang dengan 3 dai Ma’had Darus-Sunnah yang telah ditugaskan ke Papua. Ketiganya baru kembali ke Jakarta tadi malam. Masih ada 1 dai lagi yang dijadwalkan kembali esok hari. Hampir satu setengah bulan, mereka berkhidmah di bumi Cenderawasih. Ramadhan tahun ini, ada 4 dai Darus-Sunnah yang didelegasikan ke Papua. Hasil kerjasama antara Darus-Sunnah dan IAIN Fattahul Muluk Jayapura.

Keempat dai tersebut adalah Ust. Amien Nurhakim (Distrik Skouw Sae Jayapura), Ust. Subhan Mahsuni (Distrik Misool Barat Raja Ampat), Ust. Ja’far Tamam (Ma’had IAIN Fattahul Muluk Jayapura), dan Ust. Husen Ali (Masjid Agung As-Sholihin Jayapura).


Selama lebih dari satu bulan itu, keempat dai membaur dengan kegiatan keagamaan dengan masyrakat. Mulai dari menjadi imam shalat 5 waktu, shalat tarawih, qiyamul lail, kajian kitab kuning dasar, mengajar TPA, mengisi khutbah Jum’at, shalat Id, hingga mengajar di ma’had dan kampus IAIN Fattahul Muluk.

Dari obrolan singkat di atas, saya dapat merasakan kebahagiaan dan kebanggan para dai. Dengan antusias, mereka bercerita banyak hal. Bahkan ada salah satu dai yang sudah berencana untuk kembali mengabdi ke Papua dengan program 1 tahun.

Hal ini tidak lepas dari tingkat penerimaan masyarakat Papua, serta kebermanfaat ilmu para dai. Terkait yang pertama, saya jadi teringat bahwa penerimaan masyarakat di atas tidak lepas dari jejak dakwah sosok Kiai Ali Mustafa Yaqub.

Sebelas tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2010, ketika merintis pengiriman dai program Biksah Papua, Kiai Ali Mustafa Yaqub memanggil dan mewanti-wanti para dai.

Jika berada di Papua, para muridnya jangan membuat dan memperuncing perbedaan di tengah masyarakat. Ikuti dan junjung tinggi adat dan amaliyah yang sudah ada. Sebagai misal, jika masjid yang diimami tidak biasa memakai doa qunut, maka tidak perlu baca qunut.

Demikian juga jumlah rakaat tarawih dan penentuan awal Ramadhan ataupun Syawal. Pesan ini beliau ingatkan agar keberadaan muridnya di masyarakat tidak memperuncing masalah furu’iyah. Tetapi, fokus untuk memperkuat hal-hal yang ushuli dan hal-hal yang mendasar.

Dengan strategi ini, terbukti dakwah dai Darus-Sunnah selalu dinantikan oleh masyarakat Papua. Dakwah yang bijak, ramah, dan mengedepankan persatuan adalah salah satu sunnah Nabi. Dari titik ini, saya kembali teringat sosok Gus Dur (1940-2009).

Presiden RI ke-IV yang sangat dicintai oleh masyarakat Papua. Kebijakan serta komitmen kecintaan beliau kepada Papua, hingga saat ini belum tergantikan.

Terbesit dalam hati, apakah komitmen Gus Dur ini sedikit banyak menginspirasi Kiai Ali Mustafa Yaqub. Hingga akhir hayatnya, sudah berulang kali, Kiai Ali Mustafa Yaqub mengunjungi Papua.

Menemui tokoh-tokoh agamawan dan menyapa masyarakat pedalaman Papua. Dengan antusias, Beliau membiayai pengiriman dai, serta memfasilitasi beasiswa bagi putera daerah Papua untuk studi di Ma’had Darus-Sunnah dan perguruan tinggi di Jakarta.

Lantas tertarikah anda?

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *