Cerdas Mencerna Hoax

hoax

Seorang aktivis digital asal Mesir, Wael Ghanim pernah menyatakan, “Bila anda ingin memerdekakan sebuah masyarakat, yang anda butuhkan adalah internet.” Jika dibaca sekilas, pernyataan ini membentuk persepsi dalam otak kita bahwa di zaman berkemajuan ini betapa mudahnya manusia ‘dibebaskan’ oleh sebuah temuan bernama internet. Berbekal smartphone murah dan kuota secukupnya, seorang murid SD di pelosok desa bisa dengan mudahnya mengikuti perseteruan antara Donald Trump dan Hillary Clinton di kancah pemilihan orang nomer satu di Amerika Serikat. Di waktu yang sama, seorang nelayan di tengah penantian sebondong ikan yang mengisi jalanya, ia dapat membeli sampan baru dengan beberapa sentuhan jari di etalase-etalase online yang tersedia dalam layar sentuhnya.

Kata ‘dibebaskan’ di atas, sayangnya, tidak selalu bermakna positif. Kebebasan yang ditawarkan internet tidak selalu berbanding lurus dengan ekspektasi penggunanya. Kita ketahui bersama, dewasa ini tiap individu seakan memiliki ruang lingkup sendiri dalam mengekspos pemikiran, cara bersikap bahkan sisi kehidupan pribadi mereka. Jejaring sosial semacam Facebook memiliki peran signifikan dalam fungsinya sebagai wadah berbagi informasi dan menyambung koneksi para penggunanya. Namun seringkali, kebebasan berbagi yang diharapkan justru digunakan oknum tertentu untuk menjatuhkan pihak lain atau bahkan meraup penghasilan dengan cara yang kurang terpuji.

Kegaduhan dan drama antar para pengguna jejaring sosial dengan mudahnya meroket hanya karena ulah sekelompok orang. Merebaknya berita palsu atau hoax seakan menjadi santapan hangat pendamping segelas kopi di pagi hari. Ketidakmampuan pengguna jejaring sosial dalam menyaring berita ditambah kelabilan daya cerna otak mereka telah menyumbang kegaduhan lain berupa provokasi, ujaran kebencian, adu domba, bahkan penyesatan opini. Tiada salahnya jika banyak netizen menuntut CEO Facebook, Mark Zuckerberg, untuk bertanggung jawab atas maraknya hoax yang di-share oknum tak bertanggungjawab tersebut. Menampik tuduhan tersebut, Facebook menyatakan diri sebagai non-media massa, di mana isi dari sebuah kabar berita secara total berada di luar tanggung jawab pihaknya. Dengan ibarat lain, Facebook hanyalah sebuah ruangan, siapa yang memasukinya bisa saling memberi, memuji, berdiskusi, melampiaskan kemarahan bahkan saling menghina; semua diserahkan pada pengguna.

Sihir dunia maya dalam merasuki pikiran-pikiran generasi abad ini semakin menjurus pada kecemasan yang kian meruncing. Ide-ide picik dalam mencari keuntungan kerap digencarkan meski dengan cara-cara yang jauh dari koridor kesantunan. Sekelompok anak muda di Macedonia contohnya, sebagaimana dilansir dalam sebuah artikel BuzzFeed, mencoba mencari peruntungan dengan menyebarkan berita hoax seputar pemilu AS, terutama yang berkaitan dengan Donald Trump. Bagaimana uang bisa mereka dapatkan? Semakin banyak pengunjung situs mereka, semakin menggelembung pula pemasukan yang mereka dapat. Dengan mengangkat kabar tokoh yang sarat dengan kebencian seperti Trump, rasa penasaran pengguna jejaring sosial lebih tergoyah dibandingkan hanya menyajikan berita ringan seperti kekalahan Bernie Sanders dari Hillary Clinton, misalnya.

Resonansi emosi bernada sentimental rupanya menular ke hiruk pikuk politik di negara kita. Maraknya hoax seakan menjadi bahan bakar yang tiada habisnya mengobarkan fitnah yang menyerang berbagai pihak. Masih hangat dalam ingatan kita, kabar palsu tentang doa dari Musytasyar PBNU dan Pengasuh Pondok Pesantren al-Anwar Sarang, KH. Maimoen Zubair untuk Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam ajang pilkada DKI Jakarta beberapa waktu silam. Berita ini langsung ditepis oleh salah seorang santri al-Anwar bahwa Sang Guru Besar tidak pernah mendoakan apapun untuk Ahok. Begitu pun kabar adanya jari-jari palsu yang dapat dipasang sebagai cara mengelabui hak suara dalam pilkada ternyata hanyalah isapan jempol semata.

 

Sikap Islam Menghadapi Hoax

Apa yang selama ini diteriakkan massa dalam jejaring sosial berupa kebencian, kemarahan, ketakutan dan kecemasan tidak luput dari perhatian Islam sebagai agama yang mengatur tiap sendi kehidupan. Dengan kalam-Nya, Allah ‘azza wa jalla telah menggariskan tata cara seorang mukmin saat menerima sebuah kabar yang tidak diketahui sumber mulanya. Dalam surah al-Hujurat ayat 6 Sang Khaliq berfirman, {Wahai orang-orang yang beriman, jika datang seorang yang fasik kepadamu membawa berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu}. Lafadz “fatabayyanu” di ayat ini berasal dari kata tabayyun yang dalam pandangan Ibnu Jarir at-Thabari dalam kitab tafsirnya Jami’ al-Bayan bermakna, “Tangguhkanlah berita yang datang sehingga kita dapat mengetahui validitas dan keabsahannya, janganlah tergesa-gesa untuk menerimanya” –setelah poin ini dapat kami tambahkan “dan menyebarkannya”. Dalam bacaan riwayat Hamzah dan al-Kisaa-i kalimat tersebut berbunyi “fatatsabbatu” yang merupakan derivasi dari kata tatsabbut yang juga maknanya tidak jauh berbeda, yaitu perintah untuk meneliti berita yang datang dari sumber yang rapuh kredibilitasnya.

Tak berhenti di situ, Allah jalla jalaluh memberi peringatan keras dalam al-Israa’ ayat 36 agar kita berhati-hati  dalam mengikuti dan menyampaikan apa yang tidak kita ketahui dengan baik; “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Menyebarkan hoax dan isu termasuk “qiila wa qoola” (katanya dan katanya), di mana sikap ini tidak diperkenankan dalam Islam apapun cara dan alasannya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim bahwasanya Abu Hurairah berkata, Dan Rasulullah membenci dari kalian “katanya dan katanya”, banyak bertanya, dan membuang-buang harta.” Sebagai peringatan bagi mereka yang sering menyebarkan hoax tanpa pelacakan, Imam an-Nawawi membuat sebuah bab khusus dalam magnum opus-nya Syarh Shahih Muslim tentang larangan menyampaikan segala apa yang didengar tanpa memfilter otentisitas berita. Hadis yang dicantumkan dalam bab tersebut adalah, Rasulullah saw. bersabda, “Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta jika menceritakan segala berita yang ia dengar”.

Dari petunjuk-petunjuk syar’i di atas, Islam mengajarkan para pemeluknya agar menjadi hamba Tuhan yang cerdas. Ketika muatan kedengkian justru menyalip muatan-muatan positif lainnya, seorang muslim bisa memilih antara dua opsi; ingin menjadi bagian dari penyebar kebencian tanpa tahu kebenaran suatu berita atau melacak keabsahan berita tersebut dan berhati-hati dalam menyebarkan. Karena semakin luas daya jangkau jejaring sosial kita, semakin terbuka pula peluang kita untuk menjadi netizen yang picik. Wallahu a’lam.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *