BAGAIMANA CARA MENYIAPKAN DIRI SEKALIGUS MATERI? (3/3)

Oleh: Ahmad ‘Ubaydi Hasbillah

Berikut ini adalah contoh praktis persiapan yang kami lakukan:
Misalnya, kami akan mengajar hadis ke-19 dari Arbain Nawawi. Materinya adalah hadis yang artinya, “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” Ini adalah hadis yang tergolong panjang untuk anak-anak. Namun, materi yang panjang itu bisa dipecah hingga menjadi enam point. Dari situ kita bisa mengatur apa saja yang hendak kita sampaikan pada pertemuan kali ini. Misalnya, tema besar hadis ini adalah “Ilmu Jaga Allah”, kemudian kita memiliki goal bahwa anak-anak harus bisa [1] hafal hadis (secara otomatis bisa baca juga); [2] mengetahui terjemahan hadis; dan [3] mampu merenungkan dan membuat contoh (secara otomastis ini merupakan teknik mengukur pemahaman). Dari goal itu, mari kita rumuskan menjadi tiga pertanyaan atau instruksi yang nantinya dapat menjadi cicilan soal ujian atau evaluasi di akhir semester.

Goal [1] kami rumuskan menjadi instruksi, “Bacalah potongan pertama dan kedua hadis ini secara berulang-ulang, minimal dua puluh kali dengan suara lantang dan berirama! Setelah itu tuliskan hafalanmu itu menggunakan aksara latin!” Instruksi menuangkan hafalan dalam tulisan beraksara latin adalah karena nantinya akan ada ujian tulis hafalan. Bisa saja perintahnya menggunakan aksara Arab jika memang dirasa sudah saatnya mereka bisa menuangkannya dengan aksara Arab. Dalam praktiknya di kelas, proses melaksanakan kegiatan untuk mecapai goal [1] ini sudah membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit, bahkan bisa lebih untuk satu-dua siswa yang perlu bimbingan dan pendampingan khusus.

Sedangkan goal [2] kami rumuskan menjadi pertanyaan, “Apa makna dari dua potongan pertama hadis ini?” Jelas, maksud dari pertanyaan ini adalah untuk mengajarkan arti hadis. Dengan begitu, caranya adalah kita tunjukkan terlebih dahulu terjemahannya. Setelah itu mereka kita minta mengulang-ulang seperti aktifitas untuk mencapai goal [1] tersebut.

Sedangkan goal [3] kami rumuskan menjadi pertanyaan, “Apa yang akan kita lakukan untuk menjaga Allah?” Ini jelas merupakan pertanyaan yang sangat teknis tentang konsep menjaga Allah. Atau pertanyaan abstraknya bisa menggunakan kalimat “Bagaimana cara menjaga Allah?” Tapi, ingat pertanyaan menggunakan “bagaimana cara” ini adalah pertanyaan yang sulit bagi anak-anak. Jadi, kalau hendak menggunakan kata tanya seperti itu, kita harus menjelaskan konsepnya terlebih dahulu. Di sini diperkirakan akan menghabiskan waktu antara 30-40 menit, bahkan bisa lebih.

Dengan modal tiga pertanyaan terstruktur itulah evaluasi akhir semester menjadi ringan, mudah, terukur, terarah, bernilai, dan tentunya menyenangkan untuk anak-anak dan juga untuk kita sebagai pengajar.

Nah, mungkin di antara kita akan ada yang bertanya. Ya, itu kan kalau materinya hanya satu atau dua hadis saja. Bagaimana dengan saya yang harus mengajarkan banyak hadis atau materi dalam satu pertemuan? Bahkan bukan hanya satu-dua hadis, melainakn 5-10 bab yang masing-masing babnya bisa terdiri dari 5-8 hadis atau lebih. Artinya dalam satu hari harus mengajarkan lebih dari 30 hadis.

Betul, ini juga bisa diterapkan untuk kondisi tersebuut. Ingat, tugas kita adalah mendidik. Berarti aktifitasnya adalah [1] menyampaikan atau menanamkan, [2] menumbuhkan atau mengembangkan, dan [3] membimbing untuk memaknai hidup. Artinya, kita boleh menyampaikan atau menanam 50 hadis sampai 100 hadis dalam sekali pertemuan. Tapi, ingatlah tidak semua dari 50 hadis itu harus tumbuh seperti tanaman di sawah. Cukup satu sampai tiga saja dari 50 itu yang tumbuh subur.

Jadi, kita bisa memilih satu dari 50 hadis yang kita tanam dan kita sampaikan itu untuk kita tumbuh-kembangkan pada diri anak-anak didik kita supaya dapat mereka pakai untuk memaknai hidup mereka. Lalu bagaimana kita memilih salah satu dari 50 hadis itu? Itu kan sudah sulit. Ya, betul. Di sinilah pembelajaran kontekstual-tematik itu penting. Pilih saja yang paling relevan dengan kondisi riil kelas tersebut.

Jika kelas itu dirasa perlu ditumbuhkan disiplinnya, maka pilihlah hadis yang ada relevansinya dengan kedisiplinan untuk ditumbuh-kembangkan. Selain hadis yang kita pilih itu, sementara ini cukup kita sampaikan alias kita tanam saja. Setelah itu, bimbinglah mereka untuk menjadikan hadis yang tumbuh dalam diri itu sebagai bekal untuk memaknai hidupnya.

Begitulah teknis yang kami pahami tentang pedoman, fa’lam bi-annal ‘ilma bit-ta’allumi * wal-hifzhi wal-itqâni wat-tafahhumi. Unik dan asyik, bukan?!

habis

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *